Secara umum, orang Palu terbiasa pakai Bahasa Indonesia baku. Utamanya di ruang formal seperti sekolah, kampus, atau perkantoran. Namun orang Palu juga memiliki bahasa sehari-hari yang bersifat non-formal. Bahasa ini adalah campuran Bahasa Indonesia dengan dialek Bahasa Kaili.
Para perantau dari luar Kota Palu atau bukan penutur Bahasa Kaili boleh jadi akan kesulitan bila tak mengetahui dialek ini. Meski tidak berakibat fatal, tapi akan terasa janggal dan tidak akan “cair” dalam pergaulan.
Biar tidak kaku dan tidak menimbulkan miskomunikasi, sebaiknya memerhatikan beberapa panduan bahasa sehari-hari orang Palu.
Tutura.Id mencoba merangkum panduan dasar bahasa sehari-hari di Palu dengan merujuk pada Jurnal Bahasa dan Sastra (Volume II, 2017), serta artikel bahasa yang ditulis oleh Deni Karsana dari Badan Bahasa Provinsi Sulteng.
Lewat panduan ini, semoga para perantau dari luar Palu akan terlihat seperti seorang professional. Layaknya orang Palu asli.
#1 Perhatikan sejumlah singkatan
Ada beberapa kata dalam Bahasa Palu yang terdiri dari singkatan-singkatan. Ada seloroh yang menyebut boleh jadi orang Palu efisien suku kata dalam bicara. Bagi telinga mereka yang kurang terbiasa singkatan macam ini mungkin sulit dimengerti. Biar tak salah kaprah simak beberapa singkatan yang sering dipakai di keseharian orang Palu:
- 'pe' merupakan singkatan dari kata “punya”. Sekaligus bisa pula bermakna “sangat”. Jika diaplikasikan ke kalimat;
- “dia pe botol” yang artinya “dia punya botol”.
- “pe panas di sini” yang bisa diartikan “sangat panas di sini” atau “panas sekali di sini”.
- 'te' yang artinya ‘tidak’. Jika diaplikasikan ke kalimat;
- “te mau pergi” = tidak mau pergi.
- “te bisa kemana-mana” = tidak bisa kemana-mana.
- 'ba' yang artinya sedang melakukan suatu aktivitas. Jika diaplikasikan ke kalimat;
- "ba apa?" = lagi apa?
- "ada ba kejar deadline" yang artinya “sedang buru-buru kejar/mengejar deadline”.
- "ba cermin" = “sedang bercermin”.
- 'sa' yang merupakan singkatan dari kata 'saya'. Jika diaplikasikan ke kalimat;
- "sa te tau" = “saya tidak tahu”.
- "sa pigi dulu" = “saya pergi dulu”.
- 'so’. Ini bukan bahasa inggris yang artinya ‘jadi'. Kata ini merujuk pada 'sudah' dan jika diaplikasikan ke kalimat menjadi;
- “sa so te tau lagi’ = “saya sudah tidak tahu lagi”.
- “sa so bilang, kan” = “saya sudah bilang, kan”.
#2 Penggunaan akhiran “leh”, “ee”, dan “jo”.
Orang Palu biasa menerapkan akhiran di beberapa kalimat pernyataan, tergantung kondisi dan tujuannya. Akhiran ini juga bisa dipakai untuk memberi penekanan.
Salah satunya ketika ingin meminta sesuatu atau memohon, bisa menggunakan akhiran “leh”. Contoh, “belikan saya, leh” yang artinya itu “tolong jajanin/beliin aku, dong”. Jadi bisa disimpulkan bahwa akhiran “leh” itu artinya mirip-mirip dengan kata “dong”.
Kemudian ada akhiran “ee” yang biasanya digunakan untuk menyampaikan sesuatu berupa pernyataan menyangkut suatu kondisi. Bisa juga digunakan dalam hal mengomentari situasi tertentu.
Semisal, “saya sudah sampe, ee” yang artinya “saya sudah sampai, ya”. Contoh lain, “cepat sembuh, ee” yang berarti “cepat sembuh, ya" Dalam beberapa kondisi juga bisa berubah menjadi nada perintah, “bangun sudah, ee!” yang artinya “ayo bangun!”
Lalu ada akhiran “jo” biasanya digunakan untuk kalimat yang ingin menegaskan sesuatu. Tak jarang juga digunakan dipakai sebagai kata bantu. Misal dalam kalimat, “terserah, kau, jo” yang memiliki arti dari “terserah kamu deh, atau "terserah kamu aja”.
#3 Ungkapan yang hanya Orang Palu mengerti
Ketika merasa terkejut atau kaget, orang Palu biasanya akan mengucapkan “hamma”. Tentu saja ungkapan ini berbeda dengan binatang hama yang merusak tanaman. Namun pelafalannya memang cenderung mirip, kecuali pada ketebalan "m" yang lebih terasa pada 'hamma'.
Penerapannya dalam kalimat, misal, “hamma, gaganya rambutmu! Bagus sekali leh!” ini dapat dimaknai dengan “wah, bagus sekali rambutmu!”
Penggunaan ungkapan “hamma” juga bisa menandakan rasa kagum. Bisa pula menjadi ungkapan terkejut atas sesuatu.
#4 Pahami umpatan untuk hindari rasa baper
Pelajari umpatan ala orang Palu. Bila Anda memahaminya maka baper besar kemungkinan bisa dihindari. Orang Palu memang bisa terdengar sangat blak-blakan di telinga pendatang atau perantau. Meski terkesan keras di ujung lidah, percayalah anak Palu hatinya lembut seperti sutra.
Lazimnya kata-kata makian dianggap sebagai bahasa yang tidak baik, fitur linguistik yang tidak penting, bahkan dapat merusak bahasa.
Namun sama dengan berbagai daerah di Indonesia, langgam bahasa di Palu juga memiliki beberapa kata yang maknanya dapat mencerminkan keadaan seseorang, sekaligus sering dipakai untuk makian.
Kata-kata tersebut di antaranya: nabaya ‘sinting/gila’, nadoyo ‘bodoh’, nabuto ‘malas’, nambongo ‘tuli’, dan nasoe ‘sial’.
Contoh jika salah satunya diaplikasikan dalam kalimat; “Jangan banyak gerakan tambahan kau, nabaya”. Atau “Nabaya ntuu siko hii!" yang artinya "Sinting betul kamu ini!"
Ada pula kata-kata makian bernada seruan, di antaranya: ‘bah’,‘huh’, dan 'adu'. Contoh kalimatnya bisa seperti ini ”Bah, betulkah?" yang setara dengan "Ah, seriusan yang bener?”. Atau “Bah, siko hii!" yang sepadan dengan "Bah, kamu ini!”.
Selain panduan Bahasa Palu di atas, tentu masih banyak sekali kata-kata yang sering digunakan. Jadi, tidak ada cara yang lebih efektif selain langsung praktik.
Coba jo langsung bicara sama orang Palu.
Bahasa Palu Bahasa Kaili langgam bahasa palu gaya bahasa palu umpatan singkatan makian linguistik