Cerita pengojek daring berharap rezeki tengah malam dari MCD
Penulis: Grefi Marchella | Publikasi: 22 Oktober 2022 - 13:22
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Cerita pengojek daring berharap rezeki tengah malam dari MCD
Salah seorang pengojek daring sedang menunggu order di gerai MCDonald's Palu. (Foto: Grefi Marchella).

Desember 2021, McDonald’s (MCD) membuka gerai pertamanya di Palu, Sulawesi Tengah. Pada hari-hari pertamanya, MCD Palu sudah melahirkan antrean nan mengular. Kini, dengan konsep buka 24 jam, resto cepat saji ini sedikit banyak telah memengaruhi pola konsumsi warga Palu.

Resto yang terletak di sudut perempatan Juanda-Moh. Yamin-Veteran-Sisingamangaraja itu nyaris tak pernah sepi. Tengah malam hingga dini hari, selalu ada keramaian di sana. 

Tak hanya orang yang makan langsung di resto, banyak pula pengojek daring yang menunggu pesanan. Mereka siap sedia antar makanan cepat saji ke berbagai lokasi di Palu. Alhasil, MCD Palu juga terlihat serupa pangkalan pengojek daring. 

Seperti pada Kamis jelang tengah malam, 14 Oktober 2022, saat saya mampir ke MCD Palu. Kala itu sudah ada lima pengojek daring yang duduk menunggu order. Dari mereka, saya tahu bahwa sebelumnya ada lebih banyak pengojek daring memangkal di sana. Beberapa sudah pulang. Sedangkan yang lain sedang mengantar pesanan. 

Saya mengobrol dengan Ary (24), salah seorang pengojek daring yang sedang menanti order. Ia mengaku lebih suka ambil order pada tengah malam. Pasalnya, ongkos kirim pada malam hari (lepas pukul 22.00) memang di atas tarif normal. 

Pada aplikasi Grab, misal, ongkos kirim yang diterima pengojek selepas pukul 22.00 menjadi Rp15 ribu per pesanan untuk restoran besar. Bila order yang masuk untuk kedai kecil, maka tarifnya Rp12 ribu per pesanan. Adapun tarif normal yakni: Rp10 ribu per pesanan untuk restoran besar; dan Rp7.600 per order buat warung kecil. 

Tak mengherankan bila banyak pengojek daring pilih memangkal di MCD Palu. Mereka berharap bisa dapat order di gerai cepat saji yang masuk kategori restoran besar itu--biaya jasanya lebih besar. Setidaknya begitu pengakuan Ary

Status Ary yang masih bujang juga turut memudahkannya untuk bekerja pada tengah malam.  “Kalau ambil order malam tidak takut sih dengan resikonya, karena ramai di sini. Daripada hanya tidur-tidur di rumah, mumpung masih lajang mending cari uang.” katanya.

Musuh utama bekerja tengah malam, kata Ary, ialah rasa kantuk yang bisa membahayakan keselamatan. “Kalau saya tergantung mata, kalau mata masih mampu, lanjut. Kadang kalau sudah keasikan ambil orderan sudah hilang mengantuk,” kata dia.

Saban tengah malam, Ary mengaku bisa dapat 2-3 pesanan makanan dari MCD Palu. Namun, pada malam kami mengobrol, Ary belum juga dapat pesanan. Padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.30 WITA. Belum “pecah telur”, begitu ungkapan di antara para pengojek daring.

Malam itu, saya juga mengobrol dengan Reza (23), pengojek daring yang lain. Reza mengaku senang dengan profesinya karena waktu kerja yang  fleksibel; plus ada semangat solidaritas antar-driver yang jadi poin plus di matanya.

“Untuk penghasilan, dipotong dengan biaya bensin, bisa mencapai Rp100 ribu per hari. Isi bensin Rp45 ribu bisa untuk dua hari. Kalau dari Grab kita dikasi jaminan kesehatan kalau terjadi kecelakaan, kita bisa klaim.” katanya.

Di tengah wawancara, tiba-tiba ponsel Reza berbunyi. Order masuk. Reza perlu antar makanan ke Jalan Zebra. Saya tergerak meminta izin buat mengikutinya antar pesanan. Reza mengiyakan, tapi mengingatkan bahwa dirinya akan melaju dengan kecepatan tinggi. 

Benar saja, ketika pesanannya siap, Reza langsung bergegas. Saya mengekor di belakangnya dengan sepeda motor berbeda. Reza memacu motornya hingga 90 kilometer per jam. Bak kesetanan, dengan kecepatan tinggi Reza membelah jalanan Kota Palu yang gelap, sepi dan dingin.

Kami menyusuri Jalan Moh. Yamin, lalu berbelok ke Jalan Basuki Rahmat tanpa hambatan. Namun, Reza terlalu kencang. Saya tak sanggup mengekornya.

Saat masuk Jalan Zebra, saya sudah tertinggal terlalu jauh. Lorong-lorong dan persimpangan di sana sulit saya kenali. Sedangkan lampu belakang dari motor Reza tak lagi kelihatan. Akhirnya pada pukul 02.30 WITA saya memutuskan untuk pulang. 

Dari kisah Ary dan Reza, pengojek daring memang berharap bisa dapat pemasukan ekstra dengan menerima order tengah malam untuk restoran besar macam MCD.

Bekerja tengah malam sudah jadi kebiasaan bagi mereka. Tentu saja ada risiko, seperti kantuk. Namun, bagi mereka, bekerja tengah malam sudah jadi satu siasat untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
1
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
1
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Ojek daring rasa pangkalan
Ojek daring rasa pangkalan
Sebagian pengemudi ojek daring tetap lebih suka mangkal sembari menanti datangnya orderan. Rasanya seperti tukang…
TUTURA.ID - Kekhawatiran pekerja sektor transportasi ihwal rencana layanan bus raya terpadu di Palu
Kekhawatiran pekerja sektor transportasi ihwal rencana layanan bus raya terpadu di Palu
Pemkot Palu berencana mengadakan  layanan bus raya terpadu tahun ini. Tujuannya bukan sekadar mengurai kemacetan,…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng