Kiprah pengamen sang pelestari lagu daerah Kaili
Penulis: Mughni Mayah | Publikasi: 12 Mei 2023 - 13:38
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Kiprah pengamen sang pelestari lagu daerah Kaili
Senyum para musisi jalanan (dari kiri); Dewi, Mangge Joget, Papa Onel, Mangge Karambangan, dan Junson (Foto: Mughny Mayah/Tutura.Id)

Menunggu kata sebagian orang sungguh pekerjaan membosankan. Terlebih saat tiba waktunya kita terburu oleh tenggat pekerjaan atau keperluan penting.

Pemandangan itu yang tergambar jelas di raut wajah para pengendara yang mengantre di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Jalan Diponegoro, Lere, Palu Barat, Sabtu (6/5/2023) malam silam.

Berjejalan kendaraan, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, hingga truk pengangkut menunggu giliran tunggangannya diisi bahan bakar minyak. Sumpek.

Atmosfer tadi berubah jadi lebih riang ketika siang berganti malam. Bukan hanya lantaran cuaca sedikit lebih sejuk, tapi karena kehadiran pemusik jalanan yang satu per satu datang menghibur.

Seperti ketika saya menyambangi SPBU Diponegoro sekira pukul 22.00 WITA. Tampak sudah berdiri sejajar di ujung antrean trio Usman (52), Isra (54), dan Junson (34).

Lagu “Salandoa” yang berarti “Salam Rindu” mereka pilih sebagai pembuka.

Usman meniup seruling bambu, Isra alias Papa Onel yang berdiri di sebelahnya memainkan ukulele, sementara Junson membawa gitar kopong.

Kelar membawakan “Salandoa” ciptaan maestro Hasan M. Bahasyuan, sebuah mobil putih berhenti. Sang pengendara mengeluarkan dua lembar uang kertas pecahan Rp50 ribu.

Lembaran uang tersebut ia masukkan dalam ember kecil, wadah untuk menampung uang apresiasi orang-orang.

“Terima kasih sudah menghibur,” ujar sang pengendara sebelum berlalu. Usman yang dapat julukan Mangge Joget lantaran kerap goyang badan tiap membawakan lagu membalas dengan senyum ramah.

Usman alias Mangge Joget dengan seruling andalan buatannya sendiri (Foto: Mughny Mayah/Tutura.Id)

Beberapa waktu kemudian barisan makin lengkap seturut kedatangan Emil dan Dewi—perempuan satu-satunya dalam formasi tersebut.

Saat membawakan lagu “Randa Ntovea”, titinada, baik suara dan musik, yang mereka hasilkan begitu harmonis. Seolah mereka band yang sudah lama terbentuk dan sering main bersama.

Padahal masing-masing punya area mengamen berbeda. SPBU Diponegoro menjadi titik akhir sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Beberapa lagu daerah Kaili lain yang biasa mereka bawakan, antara lain “Ri Reme Nuvula”, “Uwe Noili”, dan “Randa Ntovea”.

Sekitar 30 menit menghibur, semua personel melepas alat musik. Isyarat untuk mengambil jeda sejenak.

Air mineral kemasan botol mereka teguk guna memutus dahaga dan menghilangkan serak.

“Tiap nada yang berbeda itu menciptakan kombinasi melodi musik yang teratur dan bisa menjadi indah,” ujar Papa Onel membuka percakapan dengan Tutura.Id.

Isra alias Papa Onel bernyanyi sambil memainkan ukulele (Foto: Mughny Mayah/Tutura.Id)

Mangge Karambangan sang perintis

Ketika menanyakan siapa yang mula berinisiatif mengamen dengan repertoar lagu-lagu berbahasa Kaili, Mangge Joget cepat menyebut nama Mangge Karambangan.

“Dia yang ba ajar pengamen seperti torang ini di Palu. Dia juga yang kuasai daerah-daerah SPBU di sini jauh sebelum torang,” lanjutnya.

Sosok yang dimaksudkan aslinya bernama Emil. Usianya hampir memasuki kepala enam. Berkat kelihaiannya bermain ukulele dengan penalaan karambangan, jenis permainan musik yang menjadi Warisan Budaya Tak Benda dari Tanah Poso, Mangge Emil beroleh julukan lain; Mangge Karambangan.

Emil telah menyelami dunia musik sejak masih remaja. Kala itu ia masih bersekolah di Manado, tanah perantauan yang ditinggalinya bersama ibu angkat sejak tahun 1979.

Selama bersekolah, ia diam-diam belajar secara autodidak bermain ukulele yang dibelinya dari uang sekolah. Alasannya waktu itu untuk keperluan mata pelajaran kesenian.

Emil gemas melihat anak-anak yang mengamen di lampu merah hanya berbekal kaleng kecil, namun tetap beroleh uang saweran.

Sekitar 1987, Emil memutuskan pulang ke Palu dan bekerja sebagai buruh di pabrik-pabrik. Jika sedang lowong, ia kerap duduk menemani orang-orang tua melantunkan tembang-tembang daerah Kaili.

Tepuk tangan meriah kerap mengiringi aksinya yang bisa berlangsung hingga seharian. “Dari saat itu saya sering dipanggil orang menyanyi, tiap ada acara pembacaan doa, dan pesta-pesta,” tuturnya mengisahkan.

Menjadi pengamen dilakoninya sejak 1999. Awalnya hanya menyambangi pasar-pasar, lalu beriring tahun tempat-tempat lain juga dijelajahinya, mulai dari trotoar, SPBU, dan titik-titik keramaian lainnya.

Selama kurun 24 tahun jadi pengamen, Emil mengaku pita suaranya telah pecah. Pun demikian, semangatnya terus menyanyi untuk menghibur orang tak pernah surut.

Kecakapan Emil memainkan karambangan dari dawai ukulele membuatnya dapat julukan Mangge Karambangan (Foto: Mughny Mayah/Tutura.Id)

Biasanya Mangge Emil sudah berkemas dari rumah sekitar pukul 17.00 WITA. Ukulele, harmonika, ember plastik hitam ukuran sedang sebagai penampung uang saweran, dan satu botol air mineral jadi barang bawaan wajib.

SPBU yang terletak di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Baru, Palu Barat, jadi perhentian andalan. Laiknya musikus yang siap menggelar pertunjukan, pom bensin yang lokasinya berdekatan dengan Masjid Agung Darussalam ibarat jadi panggung tetapnya.

Ketika hari berganti malam,Mangge Emil melangkah kaki meninggalkan SPBU Imam Bonjol. Menyusuri tempat-tempat lain hingga kemudian bertemu teman-teman seprofesinya di SPBU Diponegoro.

Kolaborasi mereka bisa membawakan total 20 lagu. Kebanyakan tentu saja lagu-lagu daerah Kaili. Menjelang pukul 02.00 dini hari ketika SPBU tutup, kelompok ini juga menyudahi pementasannya.

Tiga ember plastik sedang berisi uang saweran mereka himpun jadi satu. Campur baur antara uang logam dan kertas. Hasil pembagian terlihat masing-masing dapat jatah sekitar Rp60-an ribu.

Sebelum pulang membelah dinginnya terpaan angin, mereka saling berpamitan. Berjanji untuk bertemu lagi di tempat yang sama keesokan harinya.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
3
Jatuh cinta
1
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Empat kebudayaan Sulteng ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Empat kebudayaan Sulteng ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Kebudayaan Sulteng yang jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia kian bertambah lisnya. Ada empat produk…
TUTURA.ID - Badut-badut yang berseliweran di Palu
Badut-badut yang berseliweran di Palu
Profesi menjadi badut yang mengenakan kostum boneka, tak peduli terik matahari demi mengais rezeki, kini…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng