Galeri foto: Hening sakral dan gempita perayaan Imlek di Palu
Penulis: Mohammad Reza | Publikasi: 22 Januari 2023 - 21:47
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Galeri foto: Hening sakral dan gempita perayaan Imlek di Palu
Satu momen meditasi nan hening dan sakral dalam perayaan Tahun Baru Imlek di Vihara Karuna Dipa, Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga, Palu, Minggu (22/1/2022). | Foto: Mohammad Reza

Minggu, 22 Januari 2023, jarum jam tengah menuju ke pukul 9.00 WITA, dan pelataran Vihara Karuna Dipa sudah mulai didatangi oleh warga keturunan Tionghoa. 

Area sekitar Vihara Karuna Dipa terlihat semarak dengan warna merah. Orang-orang datang pakai setelan terbaik berwarna merah. Maklum, hari ini perayaan Tahun Baru Imlek. Warna merah merupakan perlambang semangat, keberuntungan, dan harapan menyambut tahun baru. 

Ini merupakan perayaan Tahun Baru Imlek pertama selepas pandemi. Semasa pandemi, perayaannya dirayakan terbatas dengan protokol kesehatan nan ketat. Wajar bila peribadatan dan seremoni Tahun Baru Imlek bertarikh 2574 kali ini terasa spesial.

“Penuh rasa syukur karena baru tahun ini, kita bisa berkumpul kembali,” kata Ferdy Lagioanwy, Ketua Panitia Pelaksana perayaan Tahun Baru Imlek di vihara yang terletak di Jalan Sungai Lariang, Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu tersebut.

Di hadapan wartawan, Ferdy juga mengatakan bahwa Tahun Baru Imlek bukan hanya milik umat Buddha saja. “Ini budaya warga keturunan Tionghoa. Agama-agama lain juga bisa merayakan. Banyak yang salah mengartikan ini,” katanya. 

Sebelum memulai peribadatan, sejumlah orang membakar dupa sebagai bentuk penghormatan, sekaligus memanjatkan doa untuk para pendahulu. 

Saat jarum jam menunjukkan pukul 09.00 WITA, dua bhikku berjalan kaki menuju area Dhammasala—tempat bagi umat Buddha melakukan bakti alias berdoa—sambil diiringi oleh bunyi lonceng. Bebunyian itu jadi pertanda agar jemaah bisa mempersiapkan diri. 

Memasuki area Dhammasala, bhikku langsung menyalakan lilin dan memulai gelar Namakara Patha (syair penghormatan). Setelahnya dilanjutkan dengan pembacaan paritta (perlindungan atau penjagaan). 

Hening nan sakral tercipta dari dalam ruang Dhammasala semasa peribadatan dan meditasi yang dipimpin oleh bhikku.

 

“Imlek dikenal sebagai awal musim semi atau musim tanam. Makanya dikenal dengan penanggalan petani. Karena pada tanggal itu para petani memulai musim untuk bercocok tanam,” kata Ricky Chowindra, sesepuh warga keturunan Tionghoa di Palu, yang didapuk menjadi penyampai pesan Imlek.

Perayaan Tahun Baru Imlek ini juga dihadiri oleh Kapolresta Palu, Barliansyah. Di hadapan wartawan, Barliansyah menyebut bahwa kondisi keamanan pada Tahun Baru Imlek kondusif adanya.  

“Kami menurunkan sekitar 150 personel dari Polresta Palu dan 150 personel BKO (bawah kendali operasi) dari Polda Sulteng. Jadi ada sekitar 300 personel ikut mengamankan di beberapa titik vihara di Kota Palu,” kata Barliansyah.

Jelang akhir acara, beberapa panitia sibuk menyiapkan bingkisan khas Imlek berupa jeruk. Dalam budaya Tionghoa, jeruk dipercaya sebagai simbol keberuntungan. Warna oranye pun dimaknai sebagai simbol kekayaan.

Sebagai penutup acara tersajilah pertunjukan Barongsai, beserta aksi bagi-bagi angpau. Senyum semringah menghias wajah-wajah warga keturunan Tionghoa. Mereka menikmati pertunjukan sambil beramah-tamah, dan bercengekerama satu sama lain.  

Ferdy Lagioanwy, yang berbicara pada wartawan, menyampaikan harapan agar semua umat mendapatkan kebahagiaan pada tahun ini.

“Sesuai dengan shio kelinci air, pada Imlek kali ini, saya berharap semua sehat-sehat, panjang umur serta berkah buat semua,” katanya.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
2
Jatuh cinta
2
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Balada petani garam Gen Z di tengah murahnya harga Garam Talise
Balada petani garam Gen Z di tengah murahnya harga Garam Talise
Kemarau berkepanjangan saat ini sejatinya surga bagi petani garam. Namun, kenyataannya justru berbeda. Harga jual…
TUTURA.ID - Pameran visual ''Garis Waktu''; melihat jejak budaya Sulawesi Tengah melalui teknologi digital
Pameran visual ''Garis Waktu''; melihat jejak budaya Sulawesi Tengah melalui teknologi digital
Museum Negeri Provinsi Sulteng menghadirkan pameran memanfaatkan medium digital. Menuai respons positif dari pengunjung.
TUTURA.ID - Tarung bebas Munas XI KAHMI
Tarung bebas Munas XI KAHMI
Munas XI KAHMI menghadirkan presidium yang kebanyakan anggota partai, dan semuanya berjenis kelamin laki-laki. Apa…
TUTURA.ID - Kaleidoskop 2023: Olahraga
Kaleidoskop 2023: Olahraga
Keberhasilan Persipal lolos Babak 12 Besar Liga Indonesia 2 dan penyelenggaraan Palu Sport Event hanya…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng