Kiprah para puan yang tak sekadar mengurusi pekerjaan domestik
Penulis: Denthamira Rahmandha Kusuma | Publikasi: 8 Maret 2023 - 10:26
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Kiprah para puan yang tak sekadar mengurusi pekerjaan domestik
Relief dinding dengan sejarah Kartini, figur yang gigih menuntut emansipasi di Indonesia (Foto: Shutterstock)

Hari ini di era modernisme yang makin berkembang, anggapan bahwa perempuan lekat dengan sebutan kaum lemah dan tak berdaya jadi makin usang saja rasanya.

Jika pun masih ada yang bersikukuh mengatakan demikian, seolah penanda orang tersebut selama ini hidup dalam tempurung kura-kura.

Sekian lama perempuan hidup dalam kungkungan budaya patriarki yang kemudian mereduksi hak dan potensi mereka. Seolah kodrat perempuan hanya patut berkutat di di dapur, sumur, dan kasur. Tak lebih.

Pemikiran dan perlakuan konservatif tersebut sesungguhnya telah lama berusaha dipatahkan. RA Kartini mungkin yang paling sering menjadi sosok sentral terkait usaha perempuan memperjuangkan emansipasi.

Tahukah engkau semboyanku? ‘Aku mau!’ Dua kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata ‘aku tiada dapat!’ melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘aku mau!’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung,

Demikian salah satu kutipan isi Kartini kepada Rosa Abendanon yang terangkum dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Banyak perempuan hebat Indonesia hari ini yang menjadikan pemikiran-pemikiran Kartini tadi sebagai panduan.

Jika kita membuka kembali lembaran-lembaran sejarah tanah air, sungguh berlimpah daftar kegemilangan sosok puan yang patut jadi kebanggaan.

Tribhuwana Wijayatunggadewi yang cempiang memerintah Kerajaan Majapahit, Laksamana Malahayati, Martha Christina Tiahahu, Andi Depu Maraddia Balanipa, Opu Daeng Risaju, Maria Walanda Maramis, dan Hj. Ince Ami hanya segelintir.

Kini, telatah perempuan Indonesia, termasuk di Sulawesi Tengah, makin terang bersinar seturut terbukanya kesempatan untuk membuktikan diri.

Mereka bekerja, berkarya, berprestasi, dan memberikan sumbangsih tanpa pamrih di berbagai bidang. Tak lagi sebatas mengurusi pekerjaan domestik.

Dalam rangka memperingati International Women's Day (Hari Perempuan Internasional), kami menghadirkan beberapa di antaranya.

Sebenarnya masih ada beberapa nama lain, hanya saja hingga tenggat penulisan jatuh tempo, sosok-sosok yang kami maksudkan tak kunjung merespons permintaan wawancara kami. Semoga pada kesempatan berikutnya.

Mas’amah Mufti saat peluncuran ontologi puisi Nyanyian Belantara di Rumah Seni Sjahrir Lawide, Tavanjuka (Sumber: balaibahasasulteng.kemdikbud.go.id)

Hj. Mas’amah Mufti

Aslinya lahir di Cirebon, Jawa Barat, tapi lebih senang disebut orang Palu lantaran lebih dari separuh hidupnya ia habiskan di Bumi Tadulako.

Mas’amah, 64 tahun, yang dikenal sebagai sastrawan juga berprofesi sebagai dosen fakultas sastra di Universitas Alkhairaat, Palu.

Ia juga turut mendirikan dan membina Sanggar Seni Loro, Bengkel Seni Suara Alam, Sanggar Seni Gimba, dan pembina Forum Lingkar Pena Sulawesi Tengah. Kepeduliannya tak sebatas tercurahkan di ranah sastra, tapi juga sosial dan kesehatan lewat keaktifannya sebagai pengurus Perhimpunan Donor Darah Indonesia Sulawesi Tengah.

Penerima Satyalencana Karya Satya atas dedikasinya menjadi pendidik selama 40 tahun sangat produktif menulis buku, yaitu Doa Dari Khatulistiwa (2000), Perempuan dan Sastra (2005), Ilustrasi Politik Kancil (2010), Peradaban Luka (2011), Seuntai Kata Merakit Makna (2017), Kembang Sepatu (2018), Hijrah Anak Negeri (2019), Pengembaraan Imajinasi (2019), dan yang terbaru Dari Eiffel ke Castel Sant'Angelo (2023) yang ditulisnya berdasarkan hasil avontur keliling benua Eropa.

Lis akan bertambah panjang jika menyebutkan kontribusinya dalam berbagai buku antologi puisi bersama. Menimbang kontribusi dan pengabdiannya di dunia sastra Sulteng, Forum Aktif Menulis mengaruniai Mas’amah piagam penghargaan pada 2019.

Mas’amah Mufti saat dihubungi Tutura.Id (25/2/2023), mengharapkan generasi muda, terutama kaum perempuan, tetap giat membaca dan menulis agar dapat menghasilkan karya-karya luar biasa.

Dewi Yanti, pendiri The Chox wedding organizer yang makin laris berkat punya reputasi bagus (Sumber: dokumentasi pribadi)

Dewi Yanti

Ibu tiga orang ini adalah sosok penting di balik The Chox, salah satu wedding organizer alias penyelenggara acara pernikahan dengan reputasi moncer di Kota Palu.

Dewi Yanti memulai usahanya sekitar delapan tahun silam. Awalnya hanya mencetak undangan pernikahan.

Seiring waktu, bukan hanya pesanan undangan yang datang silih berganti. Beberapa teman dan kerabat tak jarang meminta Dewi ikut membantu mempersiapkan pernikahan mereka.

Dewi, dibantu sang suami, kemudian berinisiatif meluaskan usahanya dengan turut menerima pengerjaan dekorasi pernikahan.

Alhasil The Chox bertransformasi jadi wedding organizer. Kini bisnisnya sudah merambah acara lain, semisal gathering, ulang tahun, hingga prom night.

Bagi Dewi, menjadi seorang perempuan yang berdikari sangat penting.

Segala problem tentu akan hadir mengiringi proses tersebut, apalagi jika harus membagi konsentrasi antara mengurusi rumah tangga dan pekerjaan.

Maka penting untuk menetapkan tujuan yang jelas, memberikan kemampuan maksimal, serta kegigihan berusaha agar berhasil menjalani keduanya.

Nur Azizah (kiri) sibuk memilah sampah berdasarkan jenisnya untuk dijadikan produk kerajinan tangan (Sumber: dokumentasi pribadi)

Nur Azizah

Nur Azizah termasuk salah satu warga relokasi yang terkena dampak bencana dahsyat yang melanda Kota Palu, 28 September 2018.

Perempuan kelahiran 9 Januari 1978 ini aktif membersihkan lingkungan tempat tinggalnya sekarang di Hunian Tetap (Huntap) Balaroa, Palu Barat, dengan mengaktifkan Kios Sampah yang sudah bergerak hampir setahun.

Kala senggang, ia bersama ibu-ibu penggerak Kios Sampah lainnya akan memilah sampah berdasarkan jenisnya, lalu membuatnya jadi produk karya kerajinan tangan.

Sebagai perintis sekaligus pekerja sosial di lingkungannya, Nur Azizah beserta anggota lainnya bekerja dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan. Semata agar lingkungan hunian mereka jadi bersih, sehat, dan nyaman.

Nur Azizah mengatakan bahwa sejak dulu perempuan sudah jadi kunci penting dalam masyarakat. Musabab dari rahim mereka para generasi penerus lahir dan tumbuh.

Oleh karena itu, ia berharap kaum perempuan makin berdaya guna dan mengukir kiprah cemerlang di berbagai bidang.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
0
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Enam jenis pohon untuk pekarangan rumah dan kawasan perkotaan
Enam jenis pohon untuk pekarangan rumah dan kawasan perkotaan
Keseimbangan alam yang tak lagi terjaga akibat pemanasan global menyadarkan kita betapa penting menanam dan…
TUTURA.ID - Lima rekomendasi buku versi Aya Canina, mantan personel Amigdala
Lima rekomendasi buku versi Aya Canina, mantan personel Amigdala
Aya Canina, penulis lagu "Kukira Kau Rumah" menghadiri Festival Sastra Banggai 2022. Ia berbagi rekomendasi…
TUTURA.ID - Bertemu Bayasa; penyembuh bergender netral dari Tanah Kaili
Bertemu Bayasa; penyembuh bergender netral dari Tanah Kaili
Aco sudah berusia 60 tahun. Ia kini satu-satunya bayasa yang tersisa di wilayah Palolo dan…
TUTURA.ID - Menutup pameran Rasi Batu dengan antusiasme
Menutup pameran Rasi Batu dengan antusiasme
Pameran seni "Rasi Batu: Residensi Seribu Megalit" akhirnya tuntas setelah melewati 21 hari penyelenggaraan. Animo…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng