Medsos: Panggung politik utama untuk menggaet pemilih muda
Penulis: Robert Dwiantoro | Publikasi: 6 April 2023 - 11:05
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Medsos: Panggung politik utama untuk menggaet pemilih muda
Pengguna media sosial, yang didominasi anak muda jauh lebih kritis. | Foto: Shutterstock

Masa-masa kampanye Pemilu 2024 bakal jadi ajang pertempuran digital. Meskipun masa kampanye baru akan berlangsung 28 November 2023-10 Februari 2024, agaknya gelagat tebar citra dari para tokoh yang mengincar kursi presiden, politisi, dan partai politik sudah demikian semarak di media sosial alias medsos.

Masa kampanye yang singkat juga membuat pentas politik akan lebih banyak memanfaatkan teknologi informasi.

Sepintas medsos mungkin dilirik sebagai kanal komunikasi politik lantaran luasan jangkauan, dan biayanya nan murah. Namun kekuatan utama medsos ialah kemampuannya menciptakan komunikasi dua arah. Karakter medsos sejalan dengan syarat utama demokrasi modern: Partisipasi publik.

Seorang politisi bisa memoles citra hingga mengampanyekan programnya. Di sisi lain, warganet juga bisa memanfaatkannya sebagai saluran kritik, kanal aduan, atau medium menyampaikan dukungan. 

Sekadar ilustrasi: Politisi boleh saja memasang puluhan baliho berukuran raksasa. Namun baliho itu tak seketika mengundang percakapan. Medsos adalah kebalikannya, Anda bisa sekadar pasang foto dengan peci nasional sambil buat caption “Selamat Idulfitri” dan bisa berharap bakal ada yang kasih komentar seketika, “Mohon maaf lahir batin, Kanda. Maju terus.”

Survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS), yang rilis pada awal 2023, secara khusus menaruh perhatian pada penggunaan medsos yang berpotensi besar mengubah arah dan preferensi politik pemilih muda.

Kelompok yang disebut terakhir memang akrab dengan medsos. Pun punya populasi nan besar di Pemilu 2024. Pemilih muda berasal dari kalangan generasi Z (Gen Z) dan generasi Y (Gen Y), dengan kisaran usia 17-39 tahun. Taksiran populasinya hampir menyentuh, 60 persen dari 206 juta jiwa pemilih.

Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Tadulako (Untad), Irwan Waris turut mengamini keampuhan medsos untuk menjangkau kelompok pemilu muda ini. 

“Generasi muda sekarang lebih suka hal praktis, tidak melibatkan banyak analisis. Gen-Z juga tidak terlalu gemar dikumpulkan, lalu diceramahi,” kata Irwan. “Gen-Z bahkan Gen-Y, lebih senang melihat segala sesuatu melalui media digital.”

Pada konteks lokal di Sulteng, medsos juga perlu dilirik lebih serius sebagai kanal komunikasi politik. Merujuk data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada 2022, sekitar 77,3 persen penduduk di Sulteng sudah terkoneksi dengan internet. Plus lebih dari 68,08 persen di antara pengguna internet tersebut hobi main medsos. 

Pengaruh medsos pada preferensi politik

Riset CSIS menyebut bahwa infrastruktur digital di tanah air yang terus membaik, dan membawa kemudahan--terutama bagi generasi muda--dalam mengakses informasi.

Generasi muda juga dinilai punya kesadaran literasi yang lebih baik. Tak heran bila persentase akses internet anak muda bisa mencapai 93,5 persen.

Medsos pun tumbuh sebagai sumber informasi utama bagi pemilih muda. Pada 2018, merujuk studi CSIS, hanya ada 39,5 persen anak muda pakai medsos sebagai sumber informasi utama. Angka itu masih kalah dengan televisi yang persentasenya mencapai 41,3 persen. 

Namun situasi itu berbalik pada 2022, anak muda yang memilih medsos sebagai sumber informasi naik jadi 59 persen. Berbanding terbalik dengan televisi yang terjun bebas ke angka 32 persen. 

Sebagai tambahan catatan, berita daring juga lebih dipilih oleh anak muda dibanding surat kabar. Media daring dibaca 8,2 persen anak muda, atau naik 1,9 persen dibanding survei pada 2018. Sedangkan surat kabar hanya disimak oleh 0,8 persen anak muda.

Lantas, bagaimana dengan kepemilikan akun medsos? Riset yang melibatkan 1.200 responden dari 34 provinsi itu menyebut lima platform utama yang digemari, yakni: WhatsApp (98,3 persen), Facebook (84,8 persen), Instagram (74,5 persen), TikTok (56 persen), dan Twitter (24,8 persen).

Dari kelima platform medsos tersebut, hanya Facebook yang mengalami penurunan pengguna dari tahun 2018, yang sempat mencapai 93,1 persen. Empat media sosial lainnya justru naik siginifikan. TikTok laik disebut sebagai medan tempur baru, sebab pada pemilu-pemilu terdahulu jumlah penggunanya belum signifikan.

Riset dengan margin of error sekitar 2,84 persen tersebut juga menyimpulkan bahwa anak muda yang menggunakan medsos lebih kritis dibandingkan mereka yang mengandalkan media konvensional.

Anak muda yang mengakses media sosial, misalnya, punya pemahaman yang lebih baik tentang isu lingkungan dan perubahan iklim (38.6 persen), dibandingkan mereka yang bergantung pada media konvensional (15.2 persen).

Bahkan ketidakpuasan pengguna media sosial terhadap kinerja pemerintahan juga lebih tinggi dibandingkan dengan pengguna media konvensional—15.3 persen berbanding 7 persen. 

Lepas dari pelbagai keunggulan medsos, tersisa pula sejumlah catatan kritis. Salah satu potensi masalah, ialah betapa mudahnya hoaks dan informasi keliru berkembang lewat medsos.

Pengalaman beberapa pemilu dan pilkada terdahulu menunjukkan medsos juga bisa berubah jadi arena tempur nan banal. Orang berkubu-kubu, black campaign menyebar, dan kabar bohong tumbuh subur.

Berkaca pada situasi itu, mungkinkah kita berharap bahwa perkembangan teknologi internet, dan medsos bisa membawa pesta demokrasi pada level yang lebih berkualitas?

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
0
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
1
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Menjamin pemenuhan hak suara pekerja tambang saat Pemilu 2024
Menjamin pemenuhan hak suara pekerja tambang saat Pemilu 2024
Kawasan industri PT IMIP yang mempekerjakan puluhan ribu orang tak menyediakan TPS lokasi khusus untuk…
TUTURA.ID - Elon Musk di antara batik bomba dan nikel Morowali
Elon Musk di antara batik bomba dan nikel Morowali
Elon Musk, orang paling tajir sedunia, tampil spesial pada forum B20 Summit dengan pakai baju…
TUTURA.ID - Isu reshuffle kabinet picu perang terbuka PDIP kontra NasDem
Isu reshuffle kabinet picu perang terbuka PDIP kontra NasDem
Jokowi kasih kode reshuffle kabinet. Kader NasDem konon jadi target pergantian. Silang pendapat terjadi antara…
TUTURA.ID - Nabila Nursakina, si pemilik jargon ''ikut aku aja joo'' yang viral karena kambing
Nabila Nursakina, si pemilik jargon ''ikut aku aja joo'' yang viral karena kambing
Berbekal selera humor dan ingin terlihat unik di antara yang lain, video-video unggahan Nabila di…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng