Achmad Intje Dahlan: Pustakawan bukan hanya soal mengurusi buku-buku
Penulis: Hermawan Akil | Publikasi: 7 Juli 2024 - 13:47
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Achmad Intje Dahlan: Pustakawan bukan hanya soal mengurusi buku-buku
Achmad Intje Dahlan menyebut hingga saat ini masih banyak orang salah kaprah menilai pustakawan | Sumber: Istimewa

Beberapa tahun terakhir Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banggai Kepulauan mencatatkan prestasi dari berbagai level. Selama empat tahun beruntun masuk 10 besar tingkat nasional dalam penghargaan pelaksanaan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) Mitra Perpusnas dari 2020-2023.

Selain itu, Dispusip Bangkep juga mewakili Provinsi Sulawesi Tengah dalam Lomba Perpustakaan Desa tingkat Nasional selama rentang 2018-2020.

Torehan membanggakan tersebut membuat Achmad Intje Dahlan semringah. Pustakawan yang bekerja di Dispusip Bangkep sejak 2019 ini jadi salah satu sosok penting dalam pelbagai hasil membanggakan tadi.

Bagi sebagian orang, jurusan atau profesi pustakawan masih dianggap sepele. Tidak menarik. Ruang lingkupnya hanya menjaga buku-buku. Penjaga perpus, demikian biasa orang menyebutnya.

Sebenarnya kerja-kerja pustakawan bukan hanya menghabiskan waktu seharian di dalam perpustakaan, tapi juga harus memiliki kemampuan mengelola perbukuan. Tak kalah penting harus menjadikan ruang perpustakaan sebagai sarana yang inklusi untuk semua kalangan masyarakat.

Achmad yang alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Ilmu Perpustakaan, menyebut hingga sekarang masih ada saja orang yang salah kaprah dan menstigmakan seorang pustakawan. Padahal negara sudah mengapresiasi pentingnya tugas pustakawan dengan menetapkan 7 Juli sebagai Hari Pustakawan Indonesia sejak 1990.

Seperti apa awal perjalanan karier pria yang kerap mendapat julukan ensiklopedia berjalannya Bangkep itu sebagai pustakawan? Berikut hasil petikan wawancara Tutura.Id bersama Achmad

Lantas, apa yang mendasari keputusan Achmad menjadi pustakawan? Berikut hasil wawancara kami yang berlangsung Jumat (5/7/2024) via WhatsApp.

Achmad Intje Dahlan mewakili Dispersip Bangkep saat menerima penghargaan dari Perpustakaan Nasional sebagai salah satu mitra terbaik dalam pelaksanaan program TPBIS tahun 2022 | Sumber: Istimewa

Ada banyak pilihan jurusan di bangku perkuliahan, mengapa memutuskan Ilmu Perpustakaan?

Awalnya belum terpikirkan ketika lulus SMK (SMEA) mau lanjut kuliah di jurusan Ilmu Perpustakaan. Waktu tahun 2008 datang ke Jakarta rencananya saya lanjut kuliah di STAN, karena basic kejuruan saya akuntansi. Ternyata saya tidak lulus ujian.

Setahun berikutnya saya mendaftar di berbagai PTN untuk memperbesar kesempatan lolos masuk di kampus-kampus ternama di Jawa. STAN tetap jadi prioritas.

Salah satu yang membuat saya akhirnya memilih opsi Jurusan Ilmu Perpustakaan ketika mendaftar di PTN lainnya karena saran dari tante. Beliau seorang guru di SMPN 14 Palu sekaligus pengelola perpustakaan di sekolah tersebut.

Beliau melihat saya punya kecintaan terhadap buku. Menurut beliau, jurusan ilmu perpustakaan punya prospek karier yang bagus dan nantinya sangat dibutuhkan.

Setelah lulus, kenapa tidak mencoba berkarier di Jakarta?

Saya rindu kampung halaman. Sudah sekitar sembilan tahun di Jakarta. Selain itu, saya tidak nyaman dengan gaya kehidupannya, kemacetannya, dan lain-lainnya. Orang tua juga sudah meminta pulang. Rindu anaknya yang lama merantau.

Pulang kampung langsung bekerja jadi pustakawan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Banggai Kepulauan?

Saya kembali ke kampung halaman pertengahan 2017. Sepanjang tahun itu saya menghabiskan waktu mengelilingi Pulau Peling dan memperdalam ilmu fotografi. Tahun berikutnya masih keliling-keliling wisata, tapi saya juga menginisiasi pendirian komunitas literasi di Salakan dengan mendirikan Sabua Biblia Library. Saya bekerja di Dispusip Bangkep mulai Januari 2019 hingga sekarang.

Sebenarnya apa saja tugas yang dikerjakan pustakawan?

Pustakawan memainkan peran penting dalam mengelola, menyusun, menjaga, mempertahankan koleksi buku dan materi pustaka di perpustakaan. Juga kerja-kerja lainnya yang berkaitan dengan buku.

Menjadi pustakawan berarti harus membaca seluruh buku koleksi perpustakaan?

Keharusan, sih, tidak. Karena ada banyak hal yang dikerjakan selain membaca semua koleksi yang ada di perpustakaan. Dalam organisasi perpustakaan, tugas pustakawan tergantung bidang keahliannya yang digelutinya. Misalnya pustakawan spesialis di bidang tertentu seperti ilmu-ilmu sosial. Berarti bisa saja yang ia kaji dan baca kebanyakan koleksi terkait bidang itu. Sedangkan buku jenis/ilmu lain sebagai tambahan informasi saja.

Salah satu program Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banggai Kepulauan agar kunjungan terus ramai | Sumber: instagram.com/dispusip_bangkep 

Selain berkuliah di jurusan Ilmu Perpustakaan, apa lagi syarat untuk menjadi pustakawan?

Pertama punya minat atau kecintaan membaca. Menurut saya itu jadi pondasi dasar bagi seorang pustakawan. Sedangkan keterampilan-keterampilan lain seiring berjalannya waktu bisa didapatkan dari berbagai pengetahuan yang dipelajari. Semisal keterampilan organisasi dan manajemen, keterampilan komunikasi dan teknologi informasi, dan lain-lain.

Apa lagi kerja-kerja pustakawan selain mengurusi buku?

Sebenarnya banyak posisi yang bisa diduduki selain berkaitan langsung dengan buku. Tergantung posisi atau tingkat jabatannya di dinas. Contohnya posisi saya sekarang yang tidak banyak lagi bersinggungan dengan buku. Saya dapat mandat sebagai fasilitator daerah berkaitan dengan pembinaan perpustakaan desa.

Berarti tugas dan wewenangnya lumayan beda, ya?

Ilmu-ilmu yang didapatkan saat kuliah soal pengolahan buku tetap bisa diterapkan langsung. Cuma memang soal pembinaan perpustakaan hanya diperoleh di lapangan ketika sudah kerja. Jadi, stigma yang bilang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan cuma “tempat pembuangan” bagi pegawai yang malas dan hanya jadi para penjaga buku itu keliru sekali.

Antara pegiat literasi dan pustakawan, apa yang jadi pembeda?

Yang membedakan dari pekerjaan saya saat di dinas dan di komunitas adalah peran dalam hal kerja-kerja kreatif. Di komunitas mendapat porsi yang lebih banyak, dibandingkan rutinitas kantoran di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Misalnya di komunitas, saya bisa mengadakan lebih banyak kegiatan dengan teman-teman pegiat literasi, mulai diskusi soal kepenulisan, pertunjukan seni, hingga atraksi budaya.

Kiat yang dilakukan pustakawan agar perpustakaan tidak sepi pengunjung?

Beberapa cara yang sudah kami tempuh, antara lain menghadirkan kegiatan/acara yang menarik dalam hal ini melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan. Misalnya mengadakan lomba membaca puisi, seminar, atau workshop yang bermanfaat bagi pengunjung. Tujuannya agar meningkatkan minat dan kehadiran di perpustakaan.

Kami juga meningkatkan pelayanan yang ramah dan membantu pengunjung mencari informasi yang diinginkan. Melakukan kolaborasi dengan berbagai kalangan eksternal instansi untuk mendukung program-program perpustakaan. Juga penataan ruangan yang rutin agar tidak terkesan monoton dan ketinggalan zaman.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
4
Jatuh cinta
2
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Darurat pengadaan buku-buku baru di perpustakaan Untad
Darurat pengadaan buku-buku baru di perpustakaan Untad
Sejumlah mahasiswa berharap koleksi buku perpustakaan di lingkungan kampus Universitas Tadulako segera diperbarui.
TUTURA.ID - Dua daerah di Sulteng beroleh opini Wajar Dengan Pengecualian dari BPK
Dua daerah di Sulteng beroleh opini Wajar Dengan Pengecualian dari BPK
Pemprov Sulteng menggenapkan raihan opini Wajar Tanpa Pengecualian selama 10 tahun beruntun. Namun, bukan berarti…
TUTURA.ID - Indeks Masyarakat Digital di Sulteng belum optimal
Indeks Masyarakat Digital di Sulteng belum optimal
Ada ketimpangan yang menganga antara Pulau Jawa dengan kawasan lain, terutama tengah dan timur Indonesia,…
TUTURA.ID - Melestarikan tradisi dan budaya di Balumpewa melalui Festival Literasi
Melestarikan tradisi dan budaya di Balumpewa melalui Festival Literasi
Untuk pertama kalinya Forum TBM Kab. Sigi menggelar kegiatan Festival Literasi di Desa Balumpewa, Dolo…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng