Baca buku sambil piknik bersama Palu Book Party
Penulis: Juenita Vanka | Publikasi: 5 Februari 2024 - 16:01
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Baca buku sambil piknik bersama Palu Book Party
Kegiatan perdana Palu Book Party di Taman GOR. Buku-buku disajikan bersama beberapa bungkus kudapan di atas kain hijau (Foto: Juenita Vanka/Tutura.Id)

Rizkiya Rasyid (22), mahasiswi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tadulako, Palu, iseng menghubungi Jakarta Book Party via Instagram, akhir Desember 2023.

Melalui kolom komentar, Kiya—panggilan akrab Rizkiya—mengetikkan niatnya untuk menghadirkan acara membaca di ruang publik serupa di Palu.

Tak butuh waktu lama restu diberikan. Pun demikian, baru sebulan kemudian ia memberanikan diri untuk mengadakan acara baca bareng. Alasannya karena khawatir peminat inisiatif ini hanya sedikit orang.

Apa yang semula menjadi kekhawatiran ternyata berbeda. Ahad (4/2/2024) petang, kegiatan perdana klub baca ini berlangsung di Taman GOR, Jalan Moh. Hatta, Besusu Tengah, Palu Timur. Tepat di bawah patung Bung Karno, sang proklamator yang juga masyhur sebagai pelahap buku dan penulis produktif.

Sekitar pukul 15.30 Wita, Kiya bersama 12 orang lainnya sudah duduk meriung membentuk lingkaran. Terhampar di tengah mereka selembar kain motif kotak-kotak kecil berwarna hijau. Semacam taplak untuk meja bulat. Beberapa bungkus kudapan, air mineral, dan buku-buku diletakkan di atasnya.

Aktivitas mereka ini menambah semarak kegiatan yang sedang berlangsung di Taman GOR. Tampak di sekitar wajah-wajah serius mereka yang sedang latihan tenis, papan seluncur, basket, karate, menari modern, dan tak ketinggalan orang-orang joging mengitari taman.

Sesi pertama kegiatan Palu Book Party diisi pembacaan buku dalam suasana hening nan santai. Masing-masing partisipan rupanya sudah datang dengan bahan bacaan di tangan.

Partisipan acara Palu Book Party dengan pose memamerkan buku bacaan yang mereka bawa masing-masing (Foto: Juenita Vanka/Tutura.Id)

Berselang 30 menit kemudian, tiba saatnya masing-masing membahas buku yang tadi mereka baca. Ketika sesi ini dimulai hadir lagi beberapa orang yang langsung dipersilakan berlesehan. Kini jumlahnya sudah 20 orang. Alhasil lingkaran pun kian membesar.

Satu per satu secara bergiliran angkat suara membicarakan bagian paling menarik dari buku yang barusan atau sedang mereka baca.

Lalu sesi berikutnya mereka namakan “bonding time” yang mirip diskusi atau berbagi cerita terkait pengalaman membaca sebuah buku.

Sesi ini tak melulu menghadirkan respons serius karena diwarnai pula gelak tawa sesama partisipan. Nida Amaliya (21), misalnya, membagikan pengalamannya saat membaca buku The Law of Attraction karya Michael J. Losier.

Nida yang kala itu baru saja putus cinta merasa sedih hati. Seolah hari-hari berganti dipenuhi bayangan kesedihan. Semuanya ia tuangkan dalam tulisan. Menulis baginya adalah tempat mencurahkan kesedihan hati.

Lalu ia teringat buku The Law of Attraction yang di dalamnya memuat cara memotivasi diri sendiri agar tak larut dalam kesedihan. Bisa cepat move on. Salah satunya dengan tak sungkan memberikan afirmasi kepada diri sendiri.

Akhirnya tulisan-tulisan curhat Nida tergantikan kalimat-kalimat motivasi dan afirmasi untuk dirinya sendiri. "Sampai sekarang pun itu masih terus saya terapkan dan sangat ampuh," ujar Nida.

Seorang anggota lainnya, Rizqi Dwi Cahyanti (20), membagikan pengalaman bertemu sebuah buku yang punya efek magis terhadapnya. Judulnya Rindu? Ke Allah Saja karya Muh. Ramli dan Arum Faiza.

"Buku ini mengajarkan saya rindu kepada Sang Pencipta itu sangat asyik. Semakin kita rindu, kita semakin mencari dan rasanya ingin selalu dekat kepada-Nya. Kalau rindu kepada manusia, kadang saat mencari kita malah dapat sakitnya," kata Kiki, sapaan akrab Rizqi.

Sinar matahari yang semula kuat menorobos dedaunan pohon makin lemah. Bayangan juga perlahan telah memudar. Pertanda malam akan menjelang. Sebelum bubaran, mereka yang menghadiri giat perdana Palu Book Party tak lupa foto bersama dengan berbagai pose.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Tutura Indonesia Media (@tutura.id)

Inisiatif menjadikan ruang-ruang publik, semisal taman atau ruang terbuka hijau, sebagai tempat berkumpul untuk membaca buku ini berawal dari Jakarta Book Party yang terbentuk Oktober 2023.

Perlahan tapi pasti, satu per satu datang permintaan dari kota-kota lain untuk mengadakan acara serupa. Hingga kini tercatat sudah ada 25 kota yang turut mendirikan Book Party, mulai dari Bogor, Kudus, Situbondo, Payakumbuh, Medan, Pekanbaru, Bone, hingga Lombok.

Kegiatan utamanya tentu saja pertemuan rutin untuk membaca buku. Konsepnya inklusif, siapa saja yang suka membaca buku, apa pun genrenya, berapa pun usianya, boleh ikut serta. Pun tak pakai syarat harus daftar untuk bisa ikutan. Bahkan datang membaca versi buku digital juga tak haram. Intinya, sih, asal bukan buku bajakan.

“Saya ingin buku itu jadi sesuatu yang bisa dinikmati tanpa embel embel, ‘Oh, buku itu untuk orang pintar. Terlalu resmi.’ Padahal buku bisa dinikmati semua orang dengan banyak genre yang ada. Mumpung ada wadah yang bersedia, jadi saya ambil kesempatannya,” ujar Kiya mengungkap alasannya menghadirkan Palu Book Party.

Kiya lanjut menjelaskan, sebagai anak muda ia mengaku resah melihat betapa minimnya kesadaran literasi di Kota Palu.

Padahal buku sangat penting untuk memperluas wawasan. Sama seperti makna buku sebagai jendela dunia. Makanya ia ingin membuat sebuah wadah untuk siapa saja bisa menikmati dan membaca buku dengan santai.

Rizkiya Rasyid, berdiri paling kiri, berfoto bersama sebelum bubaran acara Palu Book Party yang berlangsung di Taman GOR (Foto: Juenita Vanka/Tutura.Id)

“Kita minim literasi dan tidak ada tempat yang benar-benar didedikasikan untuk menurunkan itu. Jadi sebagai warga yang dekat dengan hal itu saya coba saja cari dan bikin komunitas ini. Supaya yang baca buku tidak bosan,” demikian Kiya menambahkan.

Inisiatif mengisi ruang-ruang publik dengan beragam kegiatan bermanfaat, salah satunya membaca buku bersama oleh Palu Book Party, juga dimaksudkan sebagai promosi.  

Tujuannya agar menularkan kegiatan membaca di mana saja menjadi kebiasaan sehari-hari, utamanya di kalangan generasi muda. Menggelar kegiatan membaca bersama secara rutin juga bisa mengembalikan lagi interaksi sosial yang tak hanya sekadar berlangsung di dunia maya.

Melihat antusiasme orang-orang yang menghadiri kegiatan perdana Palu Book Party, Kiya berencana menghadirkan program tambahan lain.

Jika induk mereka, Jakarta Book Party, memiliki program bernama “pusreng” alias perpustakaan bareng, maka Palu Book Party dituturkan Kiya akan coba mewadahi anak-anak yang ingin menggambar dalam kegiatan mereka nanti.

Kegiatan baca bareng di ruang publik selanjutnya akan berlanjut akhir pekan ini. Perihal lokasinya akan mereka umumkan via akun Instagram @palu.bookparty.

“Semoga Palu Book Party ini bisa menjadi jembatan untuk orang-orang yang mau membaca buku dan berdiskusi tapi tidak punya wadah,” pungkas Kiya.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
2
Jatuh cinta
2
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Aneka rupa wujud pasar lentora kekinian menjelang Idulfitri
Aneka rupa wujud pasar lentora kekinian menjelang Idulfitri
Melongok kemeriahan suasana pasar lentora era kekinian yang telah bertransformasi mengikuti perkembangan zaman dan selera…
TUTURA.ID - Ama Achmad: Berkarya dari ujung lengan timur Sulawesi
Ama Achmad: Berkarya dari ujung lengan timur Sulawesi
Ama Achmad sudah melahirkan dua buku puisi. Ia bersetia membangun semangat literasi di Banggai Raya.
TUTURA.ID - Meregenerasi Bahasa Kaili lewat buku-buku sastra
Meregenerasi Bahasa Kaili lewat buku-buku sastra
Komunitas Seni Lobo menggelar diskusi terbuka yang mengangkat topik tentang regenerasi Bahasa Kaili melalui karya…
TUTURA.ID - Membangun kebiasaan membaca pada anak sejak dini
Membangun kebiasaan membaca pada anak sejak dini
Setiap 2 April diperingati sebagai Hari Buku Anak Sedunia. Tujuannya untuk mendorong anak-anak menghargai literatur…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng