Boaz Tho Morry dulu dibayar sebungkus rokok, sekarang banjir orderan
Penulis: Juenita Vanka | Publikasi: 22 Januari 2024 - 13:22
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Boaz Tho Morry dulu dibayar sebungkus rokok, sekarang banjir orderan
Boaz tak hanya piawai sebagai pemain electone yang mengiringi acara menari dero, ia pun sanggup menjadi penyanyi dero (Foto: Juenita Vanka/Tutura.Id)

“Ada dero sebentar malam di Pengawu.”

“Siapa yang main?”

“Boaz. Pigi kita?”

“Gass!”

Ilustrasi percakapan di atas setidaknya menggambarkan dua hal; acara tarian dero yang diiringi organ alias orjen tunggal kembali mengetren dan sosok Boaz sebagai magnet.

Aslinya bernama Boas Longulo, tapi di kalangan pongko dero (poder) alias pencinta dero nama tersebut lebih populer dengan sebutan “Boaz Tho Morry”. Maklum, Boaz berasal dari Morowali, Sulawesi Tengah, wilayah tempat bermukimnya Suku Mori.

Pria yang lahir 31 tahun lalu di Kota Palu ini memang telah memiliki ketertarikan pada dunia seni, khususnya musik, sejak dari anak-anak.

Sedari umur lima tahun Boaz mengaku sudah mulai aktif unjuk gigi menyanyi untuk acara-acara gereja. Memasuki bangku SMP hingga SMA, ia mulai mempelajari alat musik organ yang saban pekan menjadi salah satu mata pelajaran di sekolahnya.

Dari situ, ia pun terus meningkatkan bakatnya. Hingga tahun 2011, ia memulai kariernya sebagai player dero.

“Awalnya dulu itu ada main dero di kantor desa. Saya coba coba iringi. Dan saya langsung suka. Dalam hatiku berkata kayaknya saya bisa,” ujarnya mengenang panggung pertamanya sebagai player dero.

Kesukaan mengiringi para penari dero di balik instrumen organ membuatnya rajin dan rutin mempelajari lagu-lagu daerah, khususnya yang dibawakan saat menyanyi lagu dero. Biasanya ia akan menghabiskan beberapa waktu untuk sekadar mempelajari musik-musik tersebut melalui YouTube.

“Jadi dulu kerjaku nonton YouTube terus. Saya pelajari apa ini, apa itu. Lama-lama saya makin tertarik, karena lagunya asik juga juga, kan. Akhirnya saya lebih suka dero daripada musik lain,” kenangnya.

Boaz kemudian terus mengembangkan sayap berkariernya. Tawaran main sudah mulai berani ia terima, mulai dari acara ulang tahun, hajatan, pesta kawin, hingga acara-acara besar yang didatangi oleh pejabat.

Selama menekuni profesi sebagai pemain organ tunggal untuk mengiringi tarian dero, Boaz telah banyak merasakan suka dan duka. Semua itu ia anggap sebagai kenangan manis.

Periode awal merintis karier, Boaz mengaku pernah tidak mendapat bayaran. Pernah juga hanya dapat jatah sebungkus rokok untuk mengiringi acara menari dero semalam suntuk.

Acara menari dero atau modero paling sering berlangsung malam hingga dini hari. Istilahnya, “Pagi kalau mau pagi.”

Dero sebenarnya tarian tradisional dari Suku Pamona yang menghuni daerah Poso dan Tojo Una-Una. Masyarakat menghadirkannya sebagai ungkapan suka cita, kebahagiaan, atau rasa syukur kepada Tuhan.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Tutura Indonesia Media (@tutura.id)

Kami menemui Boaz saat ia diminta memeriahkan acara ulang tahun seorang warga di Desa Sibowi, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi (20/1/2024). Jaraknya sekitar 26 kilometer alias 46 menit berkendara motor dari Kota Palu.

Cuaca pagi yang sejuk perlahan berganti terik. Siang tak lama lagi menjelang. Mengenakan kemeja lengan panjang motif kotak-kotak yang dilapisi kaos hijau, Boaz tampak duduk anteng di depan kibor Yamaha tipe PSR-SX700 berwarna hitam. Sesekali ia memencet tuts untuk memastikan instrumen andalannya itu siap beraksi.

Mengecek kesiapan peralatan main penting dilakukan, bukan hanya oleh anak band yang mengistilahkannya dengan check sound, tapi juga oleh pemain organ tunggal.

Salah satu yang cukup menyita waktu perkara menentukan jenis sound atau suara yang akan digunakan. “Itu kadang yang paling susah. Apalagi kalau (alatnya) beda dan belum pernah saya pakai. Artinya saya belajar dan setting langsung di tempat,” ungkapnya.

Hal lain terkait waktu yang dirasakannya juga cukup bikin khawatir tak lain soal jadwal acara dero. Pulang selalu dinihari kadang bikin Boaz parno. Khawatir ada begal atau orang-orang yang ingin berbuat jahat tiba-tiba muncul mengadang di tengah jalan.

Perihal tren menari dero yang beberapa waktu belakangan kembali marak di Kota Palu, tentu saja ditanggapi Boaz dengan penuh rasa syukur. Pun demikian, membanjirnya permintaan main akhirnya bikin kewalahan juga.

Sehari ia bisa menerima tiga tawaran bermain sekaligus di tempat-tempat berbeda. Padahal dulu, ia mengenangkan, dapat satu tawaran main dalam seminggu saja sudah bagus.

Agar bisa tampil maksimal dalam setiap kesempatan main, Boaz tidak mau kemaruk. Orang Kaili bilang nangoa. Ia berusaha menyusun jadwalnya dengan rapi. Salah satunya dengan tidak menerima tawaran main setiap hari secara beruntun.

Harus ada waktu jeda untuk beristirahat sejenak. Selain itu, Boaz tak lupa mengonsumsi vitamin dan minuman herbal seperti air jahe untuk mengembalikan stamina.

Bukan hanya padatnya jadwal yang membedakan kehidupan Boaz dulu sebagai player dero dengan sekarang. Jumlah honornya kini juga ikut terkatrol naik.

“Soal bayaran itu tergantung dari seberapa orang kenal dengan kita. Namun, ada kalanya tawaran juga tidak masuk akal,” sambung Boaz yang enggan merinci berapa nominal yang ditetapkannya setiap bermain.

Boaz sedang mengecek kesiapan instrumen kibor yang dipakainya sebelum tampil mengisi sebuah hajatan ulang tahun di Desa Sibowi, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi (Foto: Juenita Vanka/Tutura.Id)

Sebelum menjadi seorang player dero penuh waktu, Boaz telah mencoba segala macam pekerjaan, seperti jadi sopir truk, honorer, dan beberapa pekerjaan serabutan lain. Pernah pula ia rangkap profesi sekaligus; pagi jadi karyawan swasta, malamnya jadi player dero.

“Cuma saya pikir susah untuk menyesuaikan waktu. Pagi saya ke kantor, malam saya terima job dero sampai pagi. Akhirnya saya memutuskan jadi player dero full time saja,” tutur Boaz dengan penuh keyakinan.

Musabab telah memutuskan uang pemasukan hanya dari honor sebagai player dero, otomatis Boaz juga harus bersiasat agar selalu menjadi pilihan saban ada acara yang menampilkan tari dero modern.

Salah satu yang dilakukannya adalah giat berpromosi melalui platform media sosial (medsos). Ia, misalnya, aktif mengunggah jadwal mainnya agar banyak orang yang datang hadir. Pun rajin mengunggah video-video saat tampil mengisi berbagai acara.

Boaz juga menyadari bahwa ada banyak player dero lain di Palu. Maka ia terus mengembangkan kemampuan dan menambah perbendaharaan lagu yang dapat dimainkannya.

Mencari tahu tren musik di kalangan anak muda juga tak kalah penting. Walaupun aslinya tarian tradisional yang lekat dengan citra orang tua, dero modern yang sekarang lagi tren paling banyak dihadiri generasi muda.

Tak heran Boaz juga rajin menengok TikTok. Mencari tahu lagu-lagu apa saja yang sedang jadi hit. “Lagu-lagu di TikTok biasanya saya remix. Nanti dibawakan pas manggung,” kata Boaz membocorkan sedikit trik agar tetap relevan dengan generasi muda yang jadi poder.

Meluangkan waktu dengan penyanyi juga sering dilakukannya. “Jadi saya biasanya diskusi dengan penyanyi yang mau saya iringi. Musiknya mau bagaimana, dia suka menyanyi kayak bagaimana. Antara pengiring dan penyanyi harus harmonis,” imbuhnya.

Jika pemilik hajatan tak menyediakan penyanyi, Boaz mengaku bisa rangkap tugas sekaligus jadi penyanyi. Istilahnya sistem 2 in 1. Tuan rumah tahu beres.

“Mungkin karena biasanya saya jadi backing vocal, lama kelamaan bisa juga ternyata saya menyanyi dero. Makanya kalau sekarang Boaz itu terkenal sebagai pengiring sekaligus penyanyi dero,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
32
Jatuh cinta
5
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Budaya permisi ala Sulteng hadir di Pekan Kebudayaan Nasional 2023
Budaya permisi ala Sulteng hadir di Pekan Kebudayaan Nasional 2023
Tabe menjadi konten utama yang disodorkan Sulteng dalam Pekan Kebudayaan Nasional. Pengunjung tidak hanya dikenalkan…
TUTURA.ID - 500 karya seniman Sulteng dijanjikan Pencatatan Hak Cipta gratis
500 karya seniman Sulteng dijanjikan Pencatatan Hak Cipta gratis
Pencatatan hak cipta gratis bagi karya-karya para seniman Sulteng akan berlangung saat penyelenggaraan Festival Danau…
TUTURA.ID - Kolaborasi visual Fredxel dan Charles Edward dalam videoklip ''Riuh dalam Dada''
Kolaborasi visual Fredxel dan Charles Edward dalam videoklip ''Riuh dalam Dada''
Kekuatan "Riuh dalam Dada" yang dilantunkan Fredxel bikin Charles Edward, pemilik Kumbaja Photo, terpincut dan…
TUTURA.ID - Festival Tangga Banggo beri apresiasi kepada para seniman dan budayawan
Festival Tangga Banggo beri apresiasi kepada para seniman dan budayawan
Forum Masyarakat Siranindi selaku penyelenggara Festival Tangga Banggo memberikan penghargaan kepada 10 seniman dan budayawan…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng