Pekerjaan rumah bagi para penyelenggara konser musik
Penulis: Andi Baso Djaya | Publikasi: 5 November 2022 - 19:58
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Pekerjaan rumah bagi para penyelenggara konser musik
Suasana penonton konser musik Romantisasi di halaman belakang Sriti Convention Hall, 14 September 2022 (Foto: Moh. Husain)

Ribuan pembeli tiket konser Vierratale terpaksa harus menelan ludah gagal menyaksikan aksi Widy dkk. di Gelora Bumi Kaktus, Talise, Palu (19/10/2022).

Musababnya kapasitas gedung yang diresmikan pada 12 April 2022 itu sudah tidak bisa lagi menampung tambahan manusia. Penuh sesak. Sementara di luar masih ada ribuan lagi yang masih mengantre ingin masuk.

Demi menghindari hal-hal yang tidak diingankan, aparat keamanan akhirnya meminta panitia segera menghentikan alur masuk ke dalam gedung. Beberapa penonton yang menyadari over capacity tersebut juga ogah ketika ditawari masuk lewat “jalur” tertentu.

Bukan hanya kenyamanan yang pasti terganggu jika tetap memaksakan diri, tapi juga keselamatan. Tak ada satu pun acara hiburan yang seharga nyawa manusia.

Melansir ANTARA (13/4), fasilitas olahraga yang diusulkan KONI Sulteng itu punya daya tampung 4000 orang. Sementara Agung Satria selaku Direktur Operasional Mecnesia dalam laman situsweb Mercusuar (21/10), mengaku bahwa pihaknya menjual 5000 lembar tiket. Sementara kapasitas GBK diakuinya 7000 orang.

Angka tersebut berbeda dengan yang sempat terpampang di papan penghitungan jumlah tiket terjual. Pasalnya panitia masih membuka penjualan tiket on the spot. Mereka dengan penuh kebanggaan mengunggah “pencapaian” tersebut melalui fitur Instagram Story. Tertera angka 6800 lembar tiket sudah terjual untuk konser Vierratale.

Ketua panitia penyelenggara konser bertajuk “Emotional Fest” hingga tulisan ini terbit tidak memberikan klarifikasi. Hanya ada permohonan maaf terlampirkan disertai tata cara pengembalian uang bagi penonton yang kadung beli tiket, tapi tidak bisa menonton melalui akun @emotionalfest di Instagram.

Sedikit konteks, “Emotional Fest” merupakan acara konser musik yang diselenggarakan oleh Mecnesia, lembaga kursus Bahasa Inggris yang berkantor pusat di Makassar. Sementara di Palu, tempat kursus ini berada di Jalan Sugiono, Besusu Tengah.

Penyelenggaraan konser tersebut menggunakan jasa Mindset Organizer yang sama berasal dari Makassar. Sementara orang-orang yang bertugas di lapangan mereka rekrut dari Palu. Kebanyakan berusia muda dan mengaku belum pernah sebelumnya terlibat dalam sebuah konser musik.

Model pengelolaan konser musik yang serampangan tadi akhirnya berimbas kepada sejumlah penyelenggara konser musik di kota ini.

Acara Spaice Fest yang memanggungkan Pee Wee Gaskins dan Onadio Leonardo pada 4 November 2022 terpaksa berpindah ke Tanaris Coffee. Padahal awalnya pertunjukan musik tersebut dijadwalkan berlangsung di GBK.

Muhammad Aris dari Escape yang tempo hari menyelenggarakan konser Romantisasi menyesalkan ulah tersebut. “Itu bikin kita jadi tambah susah urus surat izin keramaian kalau mau bikin konser musik,” ujarnya saat dihubungi Tutura.Id melalui sambungan telepon (5/11).

Tanggapan senada juga diungkapkan Budi Hi. Lolo dari Lebah Madu Organizer sekaligus anggota Forum Backstagers Indonesia. “Di Palu kita sudah kekurangan opsi tempat untuk menyelenggarakan acara musik. Tambah dengan kejadian ini, tambah sedikit lagi opsi,” ujarnya.

Padahal menurut Budi, iklim bisnis pertunjukan musik di kota ini sedang dalam fase menanjak setelah dua tahun merayap akibat pandemi Covid-19. Deretan jadwal konser di Palu ramai hingga akhir tahun.

Gairah warga Kota Palu untuk datang menyaksikan acara-acara musik begitu menggelora. Terbukti dari status tiket terjual habis alias “sold out” yang selalu mengiringi penyelenggaraan konser musik.

Besarnya kepercayaan tersebut seharusnya jangan dinodai oleh sifat loba. “Saya menyebutnya oknum. Sebab banyak juga teman-teman yang bikin konser kerjanya bagus. Kasihan mereka jadi ikut menanggung yang bukan kesalahannya,” tambah Budi.

Asosiasi Promotor Musik Indonesia saat mengadakan konferensi pers di Creative Hall M Bloc Space, Jakarta Selatan (Foto: instagram.com/apmi.ind)
Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) saat melakukan konferensi pers di Creative Hall M Bloc Space.

Musabab menjual tiket melebihi daya tampung gedung yang mengakibatkan puluhan penonton pingsan, pelaksanaan Festival Berdendang Bergoyang juga dihentikan polisi. Acara berlangsung di Istora Senayan Jakarta (28-29 Oktober 2022).

Menurut keterangan Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Komarudin dalam laman detik.com (4/11), panitia Berdendang Bergoyang awalnya meminta izin keramaian ke Satgas COVID-19 sebanyak 5000 penonton. Saat mengurus perizinan ke Polres Metro Jakarta Pusat, mereka menyebut angka 3000 orang. Ternyata hasil penelusuran aparat mendapati bahwa panitia telah menjual 27.879 tiket.

Alhasil belum juga kelar hari kedua penyelenggaraan, pihak kepolisian memerintahkan panitia untuk menghentikan acara demi mencegah jatuhnya lebih banyak korban. Polisi juga mencabut izin keramaian penyelenggaraan hari ketiga festival itu.

Selain harus melakukan proses pengembalian uang tiket alias refund, panitia juga kini sedang menjalani penyidikan oleh pihak kepolisian.

Mereka dikenakan dugaan pasal berlapis, yaitu Pasal 360 ayat 2 KUHP karena kesalahannya menyebabkan orang luka sedemikian rupa dan Pasal 93 UU Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Akibat peristiwa tersebut pihak kepolisian di Jakarta hanya akan menerbitkan izin keramaian untuk penyelenggaraan konser yang berlangsung di ruang tertutup.

Tentu saja wajib mengikuti jumlah kapasitas tempat berlangsungnya acara. Waktu penyelenggaraannya juga tidak boleh melewati pukul 18.00 WIB.

Tak ingin terkena imbas lebih merugikan akibat ulah promotor musik yang melakukan kerja-kerja tidak bertanggung jawab, Asosiasi Promotor Musik Indonesia bergerak cepat menggelar konferensi pers di Creative Hall, M Bloc Space, Jakarta Selatan (3/11).

Hadir sebagai pembicara adalah Dino Hamid selaku Ketua Umum APMI didampingi oleh Emil Mahyudin yang menjabat Sekjen APMI dan Dewi Gontha sebagai Ketua Bidang Program & Investasi APMI.

APMI mengakui kejadian di Festival Berdendang Bergoyang menandakan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan para penyelenggara konser atau festival musik.

Pun demikian, mereka berharap pihak-pihak berwenang, juga masyarakat, tidak memukul rata semua promotor musik berlaku tidak profesional.

Dewi Gontha mengatakan bahwa mereka siap membuat standar khusus bagi penyelenggaraan konser di tanah air, mulai dari konser skala kecil, menengah, hingga skala besar. Diharapkan standar tersebut nantinya bisa memudahkan berlangsungnya sebuah acara musik.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
8
Jatuh cinta
2
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Beragam ajang dan promosi wisata demi menggaet pelancong
Beragam ajang dan promosi wisata demi menggaet pelancong
Dinas Pariwisata Prov. Sulteng pasang target sebanyak 1,32 juta wisatawan datang sepanjang tahun ini. Sejumlah…
TUTURA.ID - Menyimak babak baru perjalanan Scarhead Barricade
Menyimak babak baru perjalanan Scarhead Barricade
Lima tahun absen merilis karya terbaru, Scarhead Barricade meluncurkan single "Fana" sebagai persembahan terbaru.
TUTURA.ID - Gedung serbaguna bernama Gelora Bumi Kaktus
Gedung serbaguna bernama Gelora Bumi Kaktus
Keputusan mengizinkan GBK Palu sebagai tempat acara selain olahraga sempat mendapat protes. Namun, Dispora Sulteng…
TUTURA.ID - Konser sudah batal, uang tiket tak kunjung kembali
Konser sudah batal, uang tiket tak kunjung kembali
Konsumen alias pembeli tiket yang telah dirugikan dapat menggugat penyelenggara konser melalui Pengadilan Negeri.
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng