Ekspor produk UMKM di Sulteng tersendat soal kuantitas dan kontinuitas
Penulis: Juenita Vanka | Publikasi: 5 Juli 2024 - 22:12
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Ekspor produk UMKM di Sulteng tersendat soal kuantitas dan kontinuitas
Para peserta UMKM memamerkan produk mereka dalam ulteng Export Forum 2024. Kebanyakan produk adalah panganan oleole khas Sulteng. (Foto: Juenita Vanka/Tutura.Id)

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sulteng, Fajar Setiawan, menerangkan kegiatan ekspor di bidang pertambangan di Sulteng sudah memenuhi secara angka.

Namun, mereka juga ingin mendorong pelaku usaha meningkatkan daya ekspor pada bidang lain. Salah satunya melalui ajang Sulteng Export Forum 2024.

Acara bertajuk “Memperkuat Koneksi Menuju UKM yang Kompetitif” ini berlangsung di Kopi Tanaris, Jalan Juanda, Kota Palu (3-4/7/2024).

“Tahun lalu Sulteng berhasil melakukan ekspor dengan angka kurang lebih Rp200 triliun. Tapi memang dominan dari hasil pertambangan. Karena itu dalam acara ini kami ingin menggenjot bidang lain agar ikut berperan dalam ekspor Sulteng, ” jelas Fajar.

Fajar mengungkapkan saat ini durian dari Kabupaten Parigi Moutong menjadi komoditas favorit yang sedang naik daun dalam kegiatan ekspor di Sulteng. Permintaan ekspor datang dari beberapa wilayah di luar Indonesia.

“Untuk saat ini kita ekspor duriannya ke Thailand, Vietnam, dan lain-lain. Bahkan sekarang Cina juga menjadi tujuan ekspor kita. Mereka juga minta untuk jumlahnya ditambah,” tambah Fajar.

Selain durian, Sulteng juga mengekspor ikan dalam bentuk olahan dan ikan hidup ke Singapura, Hongkong, dan Jepang.

Namun, Fajar mengungkapkan UMKM di Sulteng belum bisa melakukan ekspor karena sertifikasi standar yang kurang, kuantitas, dan kontinuitas produk. Masih perlu banyak yang harus dibenahi dan dikembangkan.

“Produk UMKM kita (kebanyakan) masih dalam bentuk oleh-oleh. Kita tersendat soal kuantitas dan kontinuitas. Kadang permintaan banyak, kita yang tidak sanggup,” ungkap Fajar.

Perlu edukasi, menggandeng APJI

Fajar berharap pihaknya bisa memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Sulteng Export Forum 2024 diharapkan bisa membangun kesadaran dan edukasi mengenai ekspor barang untuk para pelaku usaha.

Ini diperlukan untuk meningkatkan standarisasi barang dan para pelaku usaha tidak merasa ciut dengan produk yang mereka hasilkan.

PLH Kepala Dinas Disperindag Sulteng Mira Yuliastuti mengatakan, Sulteng Export Forum 2024 hadir untuk mendorong pelaku usaha dalam membangun koneksi. Pun memberikan pelatihan bagaimana kelayakan produk dalam proses ekspor yang dapat menunjang UMKM lokal agar mampu berdaya saing, di dalam maupun di luar negeri.

“Selama dua hari kami menyediakan banyak layanan yang diikuti oleh beberapa UMKM yang hadir, seperti talk show yang isinya membahas tentang standarisasi kelayakan dan juga beberapa pendampingan dan sosialisasi seputar ekspor produk,” ujar Mira saat ditemui Tutura.Id, Kamis (4/7) sore.

Melalui acara ini, Disperindag Sulteng menaruh harapan besar agar pelaku UKM atau UMKM mendapatkan ilmu yang nantinya bisa mereka pakai untuk peningkatan kualitas dan kelayakan ekspor di Sulteng.

Meski masih membutuhkan pembenahan, hasil produk UMKM Sulteng seperti Teh Kelor sudah tembus ke pasar internasional seperti Swiss.(Foto: Juenita Vanka/Tutura.Id)

Suyeni dari Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJI) Sulteng menerangkan, acara Sulteng Export Forum 2024 diikuti sekitar 15 UMKM. Mereka menyajikan kurang lebih 100 jenis hasil olahan makanan dan minuman dalam bentuk kemasan.

Olahan makanan yang mereka sajikan semuanya komoditas khas Sulteng. Ada produk kering seperti kacang, biji kopi, dan juga berbagai macam olahan kelor. Ada pula produk UMKM berupa bawang goreng, rempeyek, bajabu, coklat, dan masih banyak lagi.

Produk olahan kelor menjadi salah satu primadona pasar mancanegara. “Kami mengekspor teh dari daun kelor ke Swiss. Belum ada (ke negara) lain,” ungkapnya.

Ada beberapa alasan sehingga pasar ekspor produk olahan kelor masih terbatas. “Kadang pelaku UMKM tidak percaya diri produk jualannya bisa tembus ekspor. Belum lagi, misalnya kayak coklat, kita butuh banyak tapi kadang kuantitasnya kurang. Jadi masih perlu banyak yang harus dibenahi,” pungkas Suyeni.

Oleh karena itu, APJI berusaha membangkitkan semangat para pelaku UMKM untuk melakukan ekspor. Salah satunya dengan memanfaatkan platform digital, marketplace, dan media sosial untuk memasarkan produk.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
0
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Menggerakan pariwisata Kota Palu melalui sport tourism
Menggerakan pariwisata Kota Palu melalui sport tourism
Pemerintah Kota Palu baru saja meluncurkan "Palu Sport Event" yang diharapkan menjadi event olahraga tahunan…
TUTURA.ID - Cerita produksi bawang goreng renyah dari Wombo Kalonggo
Cerita produksi bawang goreng renyah dari Wombo Kalonggo
Desa Wombo Kalonggo masih eksis menjadi salah satu sentral penghasil bawang goreng. Salah satu produk…
TUTURA.ID - Serba-serbi Kampung Baru Fair 2023
Serba-serbi Kampung Baru Fair 2023
Pengunjung dan pengisi stan Kampung Baru Fair 2023 berharap acara ini jadi agenda rutin yang…
TUTURA.ID - Upaya Bank Indonesia memajukan UMKM di Sulteng
Upaya Bank Indonesia memajukan UMKM di Sulteng
Bank Indonesia perwakilan Sulteng berusaha membina dan bermitra dengan 75–100 UMKM lokal agar lebih memperkuat…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng