Intje Mawar: Gerak tari harus bisa merepresentasikan tradisi dan identitas budaya
Penulis: Mughni Mayah | Publikasi: 31 Maret 2024 - 10:31
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Intje Mawar: Gerak tari harus bisa merepresentasikan tradisi dan identitas budaya
Intje Mawar, kini berumur 80 tahun, salah satu maestro tari kreasi daerah kebanggaan Sulawesi Tengah | Foto: Mughni Mayah/Tutura.Id

Satu malam yang istimewa bagi Intje Mawar. Dia dan kawan-kawannya bertandang ke Kelurahan Donggala Kodi. Kedatangannya di daerah paling barat di kaki pegunungan Kota Palu ini ditujukan untuk melihat ritual balia yang dilaksanakan oleh pemuka adat Suku Kaili.

Dengan rasa penasaran yang membuncah di dadanya, Intje Mawar memastikan dia duduk dengan tenang menyaksikan sekelompok orang tua berpakaian adat Kaili serba kuning. Mereka membentuk lingkaran.

Sebagian orang melakukan gerakan mirip tarian, sementara sebagian lagi membaca mantra-mantra diiringi irama musik etnik. Sementara Intje Mawar, kawan-kawannya, dan warga lainnya menonton dengan khidmat prosesi ritual itu.

Prosesi balia yang merupakan ritual penyembuhan bagi suku Kaili rupanya membekas di benak Intje Mawar yang kala itu baru lulus SMA. Dari momen itu rasa penasarannya muncul.

Setelahnya dia pun suka memperhatikan ritual balia dan tidak segan mengulik cerita tentang upacara adat melalui tetua-tetua adat di Kelurahan Donggala Kodi. Dari “riset” inilah muncul ketertarikannya dengan ragam kebudayaan yang dimiliki Sulawesi Tengah.

Melalui penjelasan dari para tetua adat dia mengetahui informasi bahwa ritual balia bukan satu-satunya ragam kebudayaan yang dimiliki Sulteng. Ada 12 etnis yang berbeda di daerah yang terletak di jantung Pulau Sulawesi ini. Masing-masing etnis memiliki kebudayaannya sendiri.

Fakta tersebut mendatangkan ilham di benak Intje Mawar muda. Sebuah pencerahan yang akan membuka jalannya dalam berkaya sekaligus mengabdikan diri dalam kesenian dan kebudayaan Sulteng.

Intje Mawar Lasasi Abdullah adalah nama lengkapnya. Perempuan kelahiran 8 November 1943 ini dikenal sebagai salah satu veteran penari dan budayawan perempuan.

Perannya dalam perkembangan seni tari, khususnya tari kreasi, tidak terbantahkan. Berbagai jenis kreasi tari yang berasal dari Sulteng tak lepas dari kontribusinya.

Sejak akhir 1960-an, Intje Mawar yang pernah berguru tari di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Yogyakarta, berusaha menggali dan menciptakan tarian yang diangkat dari upacara adat Suku Kaili.

Repro foto Intje Mawar saat menjadi peserta Pekan Orientasi Wartawan Hankam se-Sulteng dan Sulut di Gedung Wanita Palu, 20 Januari 1980 | Sumber: Dokumentasi pribadi Intje Mawar

Dari gerak acak hingga tari bernilai seni

Sudah menjadi kebiasaan perempuan 80 tahun ini bangun lebih pagi. Lepas salat subuh, dia memulakan hari dengan melakukan beberapa gerakan ringan. Sebagai veteran penari, Intje Mawar terbiasa dengan olah tubuh. Tak ingin hidup dalam tubuh yang kaku.

Jumat (1/12/2023) siang, saya mengunjungi kediaman Intje Mawar di Jalan Gatot Soebroto, Kelurahan Besusu, Kota Palu. Ia terlihat sibuk menyirami tanaman yang tumbuh di pekarangan. Disiraminya tanaman itu satu per satu dengan air dari selang.

Tepat di depan pekarangannya, terdapat bagunan mirip baruga yang diwarnai cat kuning seluruhnya.  “Tempat ini dulu banyak dipakai untuk pertemuan adat,” gumam Intje Mawar.

Beberapa meter dari baruga, ada bangunan bertingkat dua, terpisah dari rumah utama yang menjadi kediamannya.  Cat temboknya sudah bercak kelabu dan mulai ditumbuhi jamur.

Di bangunan lantai dua, saya menemukan sebagian dindingnya terdiri dari pilar semacam pembatas. Ada papan yang bertuliskan “Sanggar Tampilangi”. Belakangan saya mengetahui tempat itu dulu menjadi studio tari.  

Saat memasuki ruang tamu, saya dipersilahkan duduk. Ruangan ini bak museum pribadi. Ada dua lemari besar berisikan berbagai macam baju adat. Paling banyak baju adat Suku Kaili yang biasa saya lihat digunakan oleh pengantin atau dipakai tetua dalam ritual adat. Ada juga baju adat yang dikenakan manekin.

Selain baju, ada beberapa benda-benda dan dekorasi yang digunakan dalam pernikahan adat atau acara-acara ritual. Misalnya dulang tembaga, cerek, tatakan gelas, dan lainnya. Semua benda adat ini ternyata disewakan Intje Mawar untuk digunakan dalam pernikahan adat Suku Kaili.

Dinding ruang tamu hampir tertutup oleh banyak pigura yang menempel. Salah satunya pigura yang memajang foto bertuliskan “Tanggal 6 November 2000 - Kenang-Kenangan di Kota Hatyai - Thailand”.

Di balik foto itu ada sepenggal cerita perjalanan panjang Intje Mawar melestarikan seni tari Kaili dan memperkenalkannya hingga ke mancanegara.

Pada tahun 1973, Intje Mawar menciptakan sebuah tari kreasi Nontanu (Tari Tenun). Tari ini diciptakannya terinspirasi dari tradisi menenun perempuan Kaili yang ada di Kabupaten Donggala dan Kota Palu. Sebuah tradisi yang masih lestari hingga saat ini.

Tari ini pun mendapatkan kehormatan dengan ditampilkan di Kedutaan Belanda di Jakarta. Sebagai pencipta tari, Intje Mawar mengaku sangat bangga karena waktu itu tidak banyak kesenian dan kebudayaan Sulteng mendapatkan tempat.

Dua tahun berselang, tarian ciptaan Intje Mawar bernama Nobai ditampilkan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Koreografinya terinspirasi dari kegiatan masyarakat petani dalam pengolahan kopra di Sulteng.

Menurut Intje Mawar, sebuah gerakan tari harus diingat sebagai bagian dari tradisi oleh generasi ke generasi, tanpa meninggalkan identitas daerah. Tarian harus benar-benar merepresentasikan kebudayaan Sulteng.

Olehnya, demi menjaga orisinalitas karya,  setiap kreasi tariannya acap kali menyerap inspirasi dari hasil pengamatannya secara langsung.

Mencipta tari dari ritual adat butuh keceramatan dan kejelian. Sebab keseluruhan nilai gerakan tari harus menghasilkan potongan gerakan yang bisa mencerminkan ritual tersebut.

Kerja-kerja seni yang selama ini dilakukannya telah mendapatkan banyak penghargaan. Misalnya, masuk 10 besar penghargaan Tari Tingkat Nasional pada 1984. Selain itu, karya busana kreasi ciptaannya tepilih sebagai pemenang terbaik tingkat Sulteng pada tahun 1985 dan 1990.

Repro foto salah satu pertunjukan tari kreasi daerah dari Sanggar Tampilangi | Sumber: Dokumentasi pribadi Intje Mawar

Mendirikan Sanggar Seni Tampilangi

Perbincangan saya bersama Intje Mawar makin akrab dan mendalam. Ia menyuguhi saya semangkuk kolak kacang hijau yang masih hangat. “Pagi-pagi saya sudah siapkan ini untuk sarapan. Cukup bikin kita punya tenaga,” katanya.

Mantan Kepala Seksi Pendidikan Luar Sekolah, Olahraga, Pendidikan Masyarakat, dan Budaya di Dinas Pendidikan Nasional ini mengaku tidak mewarisi darah seniman dari lingkungan keturunan keluarga Abdullah.

Keluarga besarnya itu dikenal fokus dalam dunia pendidikan dan beberapa di antaranya sukses menjadi pejabat di Sulteng.

Menurutnya, pendidikan lebih dipentingkan dari kegiatan lainnya. Intje Mawar yang lahir sebagai anak kelima dari 14 bersaudara dibesarkan jauh dari kegiatan seni.

Pun demikian, Intje Mawar mengaku gairah berkesenian sudah terlihat sejak masih anak-anak. Dia suka menciptakan gerakan-gerakan acak saat mendengar irama musik. Tubuhnya seolah spontan merespons musik dengan gerak tubuh layaknya menari.

Kesenangannya bergulat dalam kegiatan seni makin bertambah ketika menempuh pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Veteran Makassar pada 1961.

Saat berada di Kota Daeng, Intje Mawar yang awalnya lebih suka menyanyi mulai diundang mengisi perlombaan di berbagai daerah, termasuk undangan memeriahkan pembukaan Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang alias Ganefo di Jakarta pada 1963.

Menikah dengan Alimin Lasasi, seorang budayawan Sulteng yang juga aktif di Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya, bikin totalitas berkesenian Intje Mawar tak terbendung.

Pasutri ini kemudian mendirikan Sanggar Tampilangi pada 1971 yang berkonsentrasi dalam pagelaran seni tari, busana, musik, dan teater. Melalui sanggar ini, Intje Mawar  meluaskan aktivitas berkeseniannya tak hanya pada etnis Kaili, tetapi juga meluas ke etnis lainnya di Sulteng.

Dia pun memberi saya beberapa album foto yang diambil dari tumpukan buku di meja tamu. Membolak-balik lembarannya, memperlihatkan banyak foto-foto berkeseniannya di bawah naungan Sanggar Tampilangi.

Dalam foto-foto itu, Intje Mawar menunjukkan saat Sanggar Tampilangi aktif dan kerap hadir dalam perhelatan seni tingkat provinsi hingga nasional. Salah satunya ketika  Sanggar Tampilangi berkesempatan menampilkan busana tradisional daerah Sulteng dalam program Ibu-Ibu RIA Pembangunan yang bertujuan meningkatkan kebudayaan daerah di DKI Jakarta.

Ada 10 anggota Sanggar Tampilangi yang diboyongnya ke Jakarta untuk memperkenalkan busana daerah Sulteng, mulai dari kain tenun Donggala, busana Banggai, busana pengantin Kaili, busana Pamona, hingga busana dari Buol.

Dia ingat betul saat mengikuti program itu, Siti Hartinah—istri presiden Soeharto—hadir dan sempat melirik salah satu busana hasil rancangan Intje Mawar. Sang ibu negara menginginkan busana pengantin Kaili menjadi koleksi busana pribadinya.

“Melalui kesenian, identitas kebudayaan Sulawesi Tengah dapat dilirik dan diakui keindahannya,” kata Intje Mawar mantap.

Menurut catatan Koran Kompas yang pernah mempublikasikan profilnya, Inje Mawar telah menciptakan kurang lebih 20 tari kreasi dan beberapa di antaranya tarian anak-anak. Pun melestarikan 12 jenis busana tradisonal dari berbagai etnis di Sulteng.

Intje Mawar memperlihatkan foto-foto pertunjukan Sanggar Seni Tampilangi | Foto: Mughni Mayah/Tutura.Id

Intje Mawar di mata generasi penerus

Pertumbuhan seni tari di Sulteng, menurut pandangan Intje Mawar, memuncak kala era Hasan M. Bahasyuan. Maestro kebudayaan Sulteng ini memang sudah berkarya sejak zaman pendudukan Jepang.

Beberapa karya tari ikonik hasil karya Hasan M. Bahasyuan diakuinya menjadi patron berkarya bagi para seniman tari. Misalnya Tari Pamonte, sejak tahun 1960-an hingga kini jadi panutan bagi seniman-seniman muda di Palu.

Sepeninggal Hasan M. Bahasyuan, menurut Intje Mawar, nyaris tidak pernah ada lagi yang disebut sebagai tarian Kaili. Menurut Intje Mawar kondisi tersebut semestinya tidak terjadi, mengingat daerah ini memiliki ragam kebudayaan dari 12 etnis berbeda.

“Hingga sekarang saya terkadang iri dengan daerah lain yang memiliki begitu banyak kreasi tari (daerah) yang bisa menggambarkan kebudayaannya. Padahal Sulawesi Tengah juga tidak kalah beragam kebudayaannya,” tuturnya.

Olehnya, semangat berkesenian di dalam diri Intje Mawar tetap membara. Meski telah pensiun sebagai penari dan koreografer, Intje Mawar masih terlibat dalam beberapa aktivitas di dunia seni. Terkadang menjadi tamu undangan, kurator, pembicara, hingga juri.

Kini Sanggar Tampilangi tak lagi memiliki penari tetap. Namun kontribusi Sanggar Tampilangi bagi kesenian di Sulteng masih terasa.

Rini, seorang koreografer di Kota Palu, menyerap semangat berkesenian dari sosok Intje Mawar. Kepada Tutura.Id, Rini menyebut Intje Mawar merupakan generasi penari dan koreografer yang cukup disengani setelah Hasan M Bahasyuan.

“Menurutku Intje Mawar adalah generasi setelah Hasan M. Bahasyuan yang menumbuhkankembangkan tarian Sulteng yang cukup populer di zamannya. Harapan saya setiap tarian semakin berkembang sesuai dengan generasinya,” ungkap Rini, pendiri Sanggar Seni Avoobulava, via WhasApp, Sabtu (9/3/2024).

Liputan ini merupakan hasil kerja sama Tutura.Id bersama Project Multatuli  untuk serial #MasyarakatAdat dan #PerempuanAdat

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
4
Jatuh cinta
1
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Mengenal sejarah dan kiprah Muhammadiyah di Sulawesi Tengah
Mengenal sejarah dan kiprah Muhammadiyah di Sulawesi Tengah
Lebih dari seabad hadir mewarnai Indonesia dengan segala dinamikanya, Muhammadiyah tetap kokoh dalam usaha-usaha pendidikan,…
TUTURA.ID - Berjuang menghidupkan teater di tengah keterbatasan ruang pertunjukan
Berjuang menghidupkan teater di tengah keterbatasan ruang pertunjukan
Memperingati Hari Teater Sedunia tahun ini, Sanggar Seni Lentera berharap pemerintah membangun ruang pertunjukan yang…
TUTURA.ID - Transisi energi di Sulteng bersimpang kenyataan di lapangan
Transisi energi di Sulteng bersimpang kenyataan di lapangan
Upaya menuju transisi energi di Indonesia ibarat sebuah mitos. Sekadar menjadi buaian cerita indah dari…
TUTURA.ID -  Kiprah Nabiyah di pusaran adat dan warisan leluhur untuk jaga budaya dan alam Suku Lauje
Kiprah Nabiyah di pusaran adat dan warisan leluhur untuk jaga budaya dan alam Suku Lauje
Nabiyah dari Desa Palasa Tengah masih tegak berdiri sebagai tokoh kunci adat Suku Lauje. Di…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng