Kaleidoskop 2022: Seni Budaya
Penulis: Rizki Syafaat Urip | Publikasi: 30 Desember 2022 - 02:19
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Kaleidoskop 2022: Seni Budaya
Sejuk Sendu jadi salah satu grup yang memeriahkan ajang konser/festival musik di Palu sepanjang 2022 (Foto: Grefi Marchella/Tutura.Id)

Januari: 

Usai jadi lokasi malam pesta pergantian tahun yang menampilkan seorang DJ sebagai pemandu musik, rindangnya Hutan Pinus Napu di kawasan Taman Nasional Lore Lindu tumpah berserakan sampah.

Februari:

Rono dange di Lero, Sindue, Pantai Barat, Donggala, mendandak ramai di jagat maya. Imbasnya lapak-lapak warga di kawasan tersebut serupa pertigaan Toboli yang menjajakan lalampa. 

Maret:

Pawai obor menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Rombongan pawai bermula dari Ruang Terbuka Hijau Vatulemo, Palu Selatan. Pungkasannya berujung di Masjid Al khairat, Jalan Sis Al Jufri, Palu Barat.   

April:

Grup Qasidah Gambus Pasigala yang mewakili Sulawesi Tengah dalam Festival Ramadan Indosiar 2022 berhasil menjadi juara pertama.

Mei:

Mei jadi awal gelaran penuh kerumunan usai melandainya jumlah pasien Covid-19. Ada tiga perayaan besar yang terlaksana, mulai dari Kampung Baru Fair, Haul Guru Tua, dan Lebaran Ketupat di Lorong Bakso, Besusu.

Di ibu kota Jakarta, Java Jazz Festival (JJF) juga memberikan kesempatan Culture Project beraksi di atas Wonderful Stage. “Ini pertama bagi kami semua hadir di JJF. Dan datang bukan sebagai penonton, tapi manggung,” ujar drummer Cliff Mokosandi.

Juni:

Maksud hati ingin membuat grafiti, apa daya bikin Muhammad Fajar (17) berurusan dengan aparat kepolisian. Pasalnya coretan Fajar yang memuat tulisan “Fajar X Tora” di sejumlah tempat, mulai dari dinding ruko, jembatan, Kantor Dinas Kesehatan Sulteng, Universitas Alkhairaat, dianggap merusak properti publik dan privat.

Juli:

Komunitas Polelea Sigi berhasil meraih juara kedua dalam Lomba Karya Musik Anak Komunitas yang digelar kemenparkeraf RI. Saat tampil, Komunitas Polelea Sigi yang mengenakan baju adat Kulawi membawakan lagu berjudul “Eksotisme Negeri 1000 Megalit”, mereka berhasil membawa pulang uang Rp50 juta.

Pementasan Mohammad Istiqamah Djamad dengan moniker Pusakata di Café Renjana, Kampung Nelayan, jadi semacam “kick off” yang mengawali berlangsungnya deretan konser/festival musik yang mengundang keramaian di Palu.

Untuk menyebut sejumlah nama, hadir Mahalini, Rizky Febian, Tiara Andini, Ardhito Pramono, Andmesh, Padi, Budi Doremi, Yura Yunita, Yovie & Nuno, Tipe-X, Hivi!, dan Lyodra Ginting.

Agustus:

Kabar duka membuka lembaran awal bulan ini. Penyiar legendaris RRI Palu, Ayuba Yusuf Lasira atau lebih akrab dengan nama udara Om Kota, meninggal dunia.

Warga melepas kepergian sosok yang suaranya begitu ikonis ini dengan penuh takzim, termasuk Wali Kota Palu Hadiyanto Rasyid, menuju ke peristirahatan terakhirnya.

Pada bulan yang sama, Ramporame Festival berlangsung di Desa Porame, Sigi. Dengan mengandalkan kolaborasi, gelaran dua hari itu bikin para sesepuh kampung bernostalgia.

September:

Lima film dokumenter pendek dengan tajuk utama “Hidup Dengan Bencana” diluncurkan pada momen empat tahun pascabencana. Sinekoci jadi promotor utama dalam project itu.

Adapun lima film yang diputar masing-masing berjudul Yang Hilang dan Yang Tumbuh (produksi Sinekoci dan Yayasan PLAN Indonesia), Saya di Sini Kau di Sana (Forum Sudut Pandang), Turun ke Atas (Nemu Buku), Tanigasi (Tana Sanggamu), dan Timbul Tenggelam (Sikola Pomore).

Oktober:

Kelompok musik Vierratale tampil lagi di Palu, tepatnya di Gelora Bumi Kaktus setelah absen sekian lama. Widy dkk. jadi penampil utama dalam penyelenggaraan “Emotional Fest”. Sayangnya banyak pemegang tiket harus kecewa. Mereka sudah tidak diizinkan masuk lantaran kapasitas di dalam gedung sudah tak muat lagi menampung tambahan manusia.

Berjarak lebih kurang 269 kilometer dari Palu, Festival Danau Poso edisi ke-22 berlangsung selama tiga hari di Tentena, Kecamatan Pamona Pusalemba. Agenda acara berupa pembakaran sebanyak 7000 nasi bambu alias inuyu berhasil memecahkan rekor MURI.

November:

RnR Experience untuk kali pertama menggelar Festival Titik Temu di area parkir Gelora Bumi Kaktus. Selama tiga hari penyelenggaraan pengunjung dapat menyaksikan 42 penampil lokal dari berbagai wilayah di Sulteng.

Bulan yang sama, terselenggara Festival Sastra Banggai yang kembali diramaikan oleh kehadiran banyak penulis, antara lain AS Rosyid, Darmawati Majid, Genta Kiswara, Fatris MF, Theoresia Rumthe, Weslly Johannes, JS. Khairen, Genta Kiswara, dan Eko Pocheratu.

Desember:

Culture Project dan Rakesh jadi musisi “perwakilan” Sulteng yang mendapat kehormatan mengisi panggung Rock In Celebes, salah satu festival musik tahunan prestisius di negeri ini. Mereka beraksi di atas Scoopy Stage.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
1
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Dadendate yang makin tergerus zaman
Dadendate yang makin tergerus zaman
Usman Lajanja, 65 tahun, bertekad melestarikan dan mengajarkan dadendate hingga akhir hayat.
TUTURA.ID - Selebrasi Festival menghadirkan inklusivitas sebuah perayaan musik
Selebrasi Festival menghadirkan inklusivitas sebuah perayaan musik
Perayaan untuk fans panggung pertunjukan musik yang inklusif. Beragam penampil dihadirkan. Area menonton juga mengakomodir…
TUTURA.ID - Pencipta konten asal Palu menang dalam Panasonic Young Filmmaker 2022
Pencipta konten asal Palu menang dalam Panasonic Young Filmmaker 2022
Adi Heriyanto terpilih sebagai pemenang dalam subkategori Conceptual Wedding Video dengan konsep video pernikahan bertajuk…
TUTURA.ID - Anak band berpromosi sekaligus berbisnis memanfaatkan stiker
Anak band berpromosi sekaligus berbisnis memanfaatkan stiker
Ukuran stiker mungkin terlihat kecil, tapi efeknya bagi anak band ternyata cukup besar. Tak heran…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng