Jalan sunyi profesi pustakawan
Penulis: Hermawan Akil | Publikasi: 6 Juli 2024 - 20:18
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Jalan sunyi profesi pustakawan
Salah satu pengunjung di Perpustakaan Kota Palu tampak serius mengerjakan tugas kampus di samping rak buku yang tertata rapi | Foto: Hermawan Akil/Tutura.Id

Jumat (5/7/2024) pagi, dua hari sebelum peringatan Hari Pustakawan Nasional, untuk kesekian kalinya kami mengunjungi Perpustakaan Kota Palu di Jalan Bukit Cina, Kelurahan Talise.

Ada beberapa mahasiswa yang datang mengerjakan tugas kuliah, anggota komunitas yang menyiapkan ruangan untuk pelaksanaan kegiatan, dan ada juga yang sekadar membaca koleksi buku-buku. Alhasil suasana di perpustakaan ini lumayan ramai.

Banyak bukaan lebar untuk keluar masuk cahaya dan udara di gedung yang baru sekitar setahun diresmikan ini. Membuatnya tampak terang. Jauh dari kesam suram dan membosankan yang selama ini menjadi stigma sebagian orang bila sudah membicarakan tentang gedung perpustakaan.

Jika dikelola dengan baik oleh orang-orang yang tepat, sesungguhnya perpustakaan bisa menjadi tempat menyenangkan. Sebab pengelolaan ruang perpustakaan bukan hanya tentang kemampuan menjaganya seharian penuh, melainkan harus dilengkapi kecakapan tertentu. Itu mengapa hadir jurusan Ilmu Perpustakaan di beberapa perguruan tinggi. Para lulusannya diharapkan jadi calon pustakawan.

Selama ini, ada kekeliruan mendasar dalam mengelola perpustakaan. Contohnya di sekolah-sekolah. Biasanya tugas sebagai pengelola perpustakaan diserahkan kepada guru yang kekurangan jam mengajar.

Padahal, meskipun guru yang ditugaskan tersebut lulusan Ilmu Keguruan yang mahir mengajar, belum tentu mereka bisa mengelola perpustakaan dengan baik. Jadi, tidak mengherankan bila stigma profesi pustakawan hanya sekadar mencatat, menyusun, dan membersihkan rak buku masih melekat di benak sebagian orang.

Rezky Amelia Jumain (27), pustakawan bagian layanan merupakan lulusan dari jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, menceritakan aktivitasnya sebagai pustakawan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Palu.

Menurut Rezky, secara umum standar yang digunakan untuk menata buku-buku menggunakan Dewey Decimal Classification (DDC). Cara kerja sistem ini adalah membagi buku-buku dalam 10 topik utama atau kelas, yaitu karya umum, filsafat, agama, ilmu sosial, bahasa, ilmu pengetahuan murni, ilmu pengetahuan terapan/teknologi, seni dan olahraga, kesusastraan, dan terakhir sejarah dan geografi.

Jangan mengira hanya 10 kelas utama itu yang penting. Setiap kelas memiliki kelas turunan yang disesuaikan dengan isi buku. Menggolongkan buku sesuai kelasnya butuh ketelitian dan kesabaran. Tak semudah yang dibayangkan.

Bila judul buku tidak spesifik mencirikan kelasnya berdasarkan DCC, maka tugas pustakawan untuk mendapatkan penjelasan yang rinci tentang buku tersebut. Caranya tentu saja dengan membaca isi buku.

Aktivitas ini jadi beban dan tanggung jawab yang diemban seorang pustakawan. Bila keliru dalam pengklasifikasikan kelas turunan sebuah buku, maka pustakawan pasti merasa sangat bersalah. Sebab akan mengakibatkan pengunjung jadi lebih susah mencarinya. Peletakannya di rak tidak sesuai isinya yang dikandungnya.

Efek lainnya, perpustakaan ikut dirugikan karena dianggap koleksinya kurang lengkap, pengunjung tidak dapat apa yang mereka cari, dan penulis buku tidak memperoleh tingkat keterbacaan yang luas dari karya yang diciptakannya.

Selain menerapkan apa yang telah didapatkan ketika belajar ilmu perpustakaan, pustakawan tidak serta merta diam menunggu pengunjung datang. Mereka harus mengikuti perkembangan zaman dengan berbagai inovasi.

Betapa profesi seorang pustakawan tidak semudah yang dibayangkan. Tugasnya bukan sekadar membagi kelas buku, tapi juga mengelola perpustakaan agar bisa diakses lebih banyak orang. Pun demikian, masih banyak yang belum mengetahui—atau bahkan menyadari—arti penting sosok pustakawan. Itulah mengapa seorang yang berprofesi sebagai pustawakan, seperti halnya arsiparis, harus siap menempuh jalan sunyi.

Padahal kehadiran mereka sangat menentukan hidup mati perpustakaan. “Perpustakaan adalah jantungnya sekolah. Apabila perpustakaan mati, maka semua akan mati,” ucap Rezky Amelia yang meyakini bahwa cara terbaik untuk meningkatkan hasrat belajar dan rasa ingin tahu adalah dengan menghidupkan perpustakaan.

Bagi orang yang menginsafi arti penting perpustakaan, niscaya mereka akan tiap hari datang mengunjunginya. Sebab dengan membaca pekerjaan bisa dengan mudah dikerjakan. Literasi pada dasarnya dimaksudkan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan manusia.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
1
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Kaleidoskop 2022: Seni Budaya
Kaleidoskop 2022: Seni Budaya
Ramai penyelenggaraan konser dan festival musik setelah dua tahun absen jadi peristiwa paling menyita perhatian…
TUTURA.ID - Melestarikan tradisi dan budaya di Balumpewa melalui Festival Literasi
Melestarikan tradisi dan budaya di Balumpewa melalui Festival Literasi
Untuk pertama kalinya Forum TBM Kab. Sigi menggelar kegiatan Festival Literasi di Desa Balumpewa, Dolo…
TUTURA.ID - Achmad Intje Dahlan: Pustakawan bukan hanya soal mengurusi buku-buku
Achmad Intje Dahlan: Pustakawan bukan hanya soal mengurusi buku-buku
Hingga saat ini masih ada yang menganggap sepele tugas pustakawan. Padahal sosok pustakawan sangat penting…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng