Kolaborasi Scarhead Barricade dan HBF Studio dalam album Nakana
Penulis: Anggra Yusuf | Publikasi: 15 Oktober 2023 - 20:14
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Kolaborasi Scarhead Barricade dan HBF Studio dalam album Nakana
Menikmati suguhan visual langsung saat mendengarkan album terbaru Scarhead Barricade (Foto: Anggra Yusuf/Tutura.Id)

Cukup lama penantian hadirnya album penuh terbaru dari unit pengusung grindcore Scarhead Barricade terpendam. Sejak terakhir merilis Earth pada 17 November 2018, kuartet asal Palu ini baru bisa mengulanginya lima tahun berselang.

Album penuh kedua band yang terbentuk sejak 2010 ini diberi judul Nakana. Sebuah kosakata dalam Bahasa Kaili yang artinya “betul” atau “benar”. Isinya tujuh trek lagu yang tentu saja nakanano alias berisik.

Keputusan menggunakan Bahasa Kaili sebagai judul album tak lain bentuk usaha para personel menjaga eksistensi penggunaan bahasa daerah.

“Ini berangkat dari keresahan juga. Banyak teman sebayaku di Kabonena sana jadi minder sudah kalau bicara pakai Bahasa Kaili di tempat ramai. Mungkin karena mereka lihat di Kota Palu ini jarang sudah anak mudanya pakai Bahasa Kaili. Terasa sekali jaraknya," ungkap Ayyad, gitaris merangkap vokalis Scarhead Barricade.

Jika menengok kembali katalog terdahulu band ini, ikhtiar menyisipkan Bahasa Kaili sudah hadir lewat “Nemaeka” yang termuat dalam album Earth.

Kali ini posisinya terbalik. Bahasa Kaili yang membungkus jadi judul album, sementara penggunaan Bahasa Indonesia bercampur Inggris menghiasi penulisan lirik dan judul lagu.

Ayyad sebagai frontman menggantikan Nanda Bimantara mengungkap bahwa kebanyakan lirik dalam album berisi tujuh lagu ini membicarakan hubungan vertikal. Tentang hubungan manusia, dalam hal ini para personel, dengan keyakinannya masing-masing.

Album Nakana juga menandai kolaborasi band ini dengan Indhar (vokalis Frontxside asal Makassar), Aree (personel Blurum), Nanda Bimantara (eks vokalis Patrick dan Chains Off), dan unit hip-hop Blurum.

Total durasi penggarapan album berlangsung sekitar enam bulan. Sesi rekaman, mixing, dan mastering berlangsung di Effort Lab Palu yang dikomandoi langsung oleh Ayyad.

“Pokoknya kami maksimalkan semua software yang ada di Palu ini untuk menghasilkan rekaman yang bagus. Supaya hasilnya tidak kalah dengan ketika rekaman di luar Palu,” sambung Ayyad.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by HBF.STUDIO (@hbf.std)

Melalui acara perilisan album yang berlangsung sederhana di Sebati Kopi, Jalan Angkasa, Palu Selatan, Jumat (12/10/2023) petang, Ayyad dkk. mengajak beberapa media dan teman-teman dekat untuk jadi yang pertama mencicipi suguhan paling gres dari Scarhead Barricade.

Jangan bayangkan peluncuran album ini berisi showcase atau penampilan Mu'ayyad (vokalis dan gitaris), Muhammad Triandi (drummer), Mohammad Kevin Yudhil (bassis), dan Alan Saputra (gitaris) membawakan materi dari album Nakana di atas panggung.

Acara peluncuran album justru berisi bincang santai tentang proyek album Nakana. Sebuah proyek yang berbeda dari kebanyakan cara band merilis dan mendistribusikan albumnya.

Pembeda yang dimaksudkan karena album Nakana tak sekadar bisa dinikmati secara audio. HBF Studio sebagai label yang menaungi juga menyuguhkan semacam wahana visual karya Kukuh Ramadhan dalam sebuah ruangan.

Suguhan visual tersebut berisi aneka gambar motif ornamen tradisional Sulawesi Tengah yang ditembakkan melalui teknologi projection mapping ke dinding.

“Inspirasinya dari beragam motif tradisional yang sempat didokumentasikan oleh Walter Kuadern, Albertus Christiaan Kruyt, dan kawan-kawannya,” terang Kukuh.

Pendengar yang tertarik merasakan pengalaman berbeda tersebut cukup merogoh Rp5000 per lagu. Setiap lagu menyuguhkan visual berbeda mengikuti hasil reinterpretasi Kukuh terhadap lagu Scarhead Barricade dalam album Nakana. Setiap orang bebas menentukan trek mana yang ingin mereka nikmati.

Menikmati suguhan Scarheaad Barricade bersama HBF Studio lewat proyek album Nakana ibarat pengalaman trip sinematik nan psikedelik. Bayangkan nomor-nomor cadas berpadu visual motif tradisional aneka rupa dan warna yang bergerak-gerak di depan mata.

Album Nakana dengan penyajian yang menghadirkan semacam wahana visual bisa dikatakan pionir di Kota Palu. Apakah model ini berhasil atau malah sebaliknya tak menjadi fokus kerisauan HBF Studio dan Scarhead Barricade.

Sedari awal mereka meniatkan kolaborasi sebagai ikhtiar mencoba cara atau model-model lain dalam mendistribusikan, mempresentasikan, dan memonetisasi karya.

Pasalnya proyek ini juga turut menggandeng Ramporame Craft dan Sebati Kopi yang memproduksi aneka produk jualan alias merchandise, mulai dari gantungan kunci, asbak, sendok, hingga kopi.

Beriring waktu, mereka tak menampik jika ada pihak lain yang tertarik bergabung. Alhasil Nakana tak lagi sekadar proyek album, tapi menjelma sebagai brand alias jenama yang memiliki banyak produk turunan.

“Kami ingin berkesperimen sejauh apa kami mampu melibatkan diri atau bahkan membuka industri musik di Palu yang kita dambakan bersama. Karena beberapa tahun terakhir kami tidak melihat potensi dan kesempatan yang menjanjikan dalam industri musik di sini,” tutur Yusuf Radjamuda selaku produser dan bussines planner HBF Studio.

Pihak HBF Studio dan Scarhead Barricade akan coba mengusung konsep perpaduan audio visual ini dalam berbagai kesempatan di tempat berbeda.

“Konsep ini rencananya juga kami mau bawa saat tur nanti. Jadi orang-orang di luar Palu bisa tahu ada suguhan semacam ini,” ungkap Ayyad.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by SCARHEAD BARRICADE (@scarheadbarricade)

HBF Studio, diterangkan Papa Al—sapaan akrab Yusuf Radjamuda, merupakan entitas yang lingkup pekerjaannya kurang lebih seperti label musik. Berbeda dengan Halaman Belakang Films yang telah lebih dahulu eksis sebagai rumah produksi.

“Kami membuka diri bekerja sama dengan semua musisi dari genre apa pun, yang penting garap album. Pokoknya kami akan serius menangani dari A-Z, mulai dari branding, segi artistik, bahkan hingga rilisan fisik album. Asal serius, jangan lagi cuma main-main,” tegas Papa Al.

Selain berkolaborasi dengan Scarhead Barricade, HBF Studio kini sedang fokus menyelesaikan penggarapan album Fredxel dan grup musik Kopi dan Teh.

Perihal sistem kolaborasi yang terjalin, dicontohkan Papa Al bahwa setiap pihak memiliki posisi yang setara karena masing-masing punya modal. Semisal HBF Studio dengan modal fasilitas, lalu Kukuh dengan keahlian artistiknya dalam olah visual, dan musisi sebagai empunya karya.

Dituturkan Kukuh, kerja sama dengan Scarhead Barricade berawal dari permintaan Ayyad yang memintanya menggarap artwork album Nakana.

Merasa model kerja sama tadi sifatnya pendek dan hanya akan mendatangkan benefit untuk dirinya seorang, Kukuh menawarkan kerja sama model lain yang memiliki “napas” lebih panjang. Pun bisa mendatangkan keuntungan yang bisa dinikmati lebih banyak orang.

“Ibaratnya kalau ada yang beli produknya Nakana ini, teman-teman di Porame bisa jalan terus produksi merchandise-nya. Begitu juga Sebati bisa laku terus kopinya. Belum lagi produk-produk lain yang entah apa nanti kami jual. Jadi tidak sekadar dengar lagunya, setelah itu habis sudah,” terang Kukuh yang bertanggung jawab mengurusi segala bentuk produksi jualan album Nakana.

Bagi yang tertarik menjadi semacam donatur atau investor dalam setiap proyek yang penggarapannya sedang dilakukan oleh HBF Studio, kesempatan untuk berpartisipasi terbuka sangat lebar.

“Nanti akan kami bicarakan skema reward yang didapatkan setiap orang berdasarkan besaran donasinya,” pungkas Papa Al.

Andi Baso Djaya turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
0
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Melestarikan eksistensi kakula dalam karya musisi masa kini
Melestarikan eksistensi kakula dalam karya musisi masa kini
Segelitir musisi muda Kota Palu masih memasukan kakula dalam karya musik mereka. Ikhtiar menjaga eksistensi…
TUTURA.ID - Kolaborasi visual Fredxel dan Charles Edward dalam videoklip ''Riuh dalam Dada''
Kolaborasi visual Fredxel dan Charles Edward dalam videoklip ''Riuh dalam Dada''
Kekuatan "Riuh dalam Dada" yang dilantunkan Fredxel bikin Charles Edward, pemilik Kumbaja Photo, terpincut dan…
TUTURA.ID - Di balik panggung kemunduran konser Tipe-X di PDKTxKOMFEB
Di balik panggung kemunduran konser Tipe-X di PDKTxKOMFEB
Hajatan PDKTxKOMFEB yang menghadirkan Tipe-X harus tertunda. Konon ada masalah antara BEM FEB Untad…
TUTURA.ID - Retret menikmati keelokan sepotong surga yang mengambang di Teluk Tomini
Retret menikmati keelokan sepotong surga yang mengambang di Teluk Tomini
Menyisihkan waktu untuk retret di Kepulauan Togean tak pernah mengecewakan. Keindahan panoramanya selalu menggoda untuk…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng