Membangun ekosistem berkesenian sejak dari kampus
Penulis: Juenita Vanka | Publikasi: 13 Agustus 2023 - 21:34
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Membangun ekosistem berkesenian sejak dari kampus
Pementasan teater Tadulako Neulitikum Voice yang berpadu video mapping, Minggu (12/8/2023), malam | Foto: Juenita Vanka/Tutura.Id

Malam puncak Gelar Karya Komunitas Seni Tadulako yang menghadirkan pementasan teater tubuh—sebagian menyebutnya teater gerak—dapat sambutan meriah dari para pengunjung yang memenuhi Auditorium Universitas Tadulako, Minggu (12/8/2023).

Sorak dan tepuk tangan penonton membahana sepanjang pertunjukan yang berlangsung nyaris sejam itu. Berbeda dengan teater kebanyakan yang menghadirkan pertunjukan drama dengan banyak dialog, teater tubuh lebih menonjolkan ketubuhan para pemainnya sebagai objek pertunjukan. Hampir tak ada sebaris pun dialog yang terlontar.

Pementasan yang disutradarai Edy Subianto dibantu Moh. Annas Yodjo (koreografer) dan Nashir Umar komposer) itu menggali inspirasi cerita dari sosok kepemimpinan Tadulako di Tanah Kaili. Tantangan utamanya tentu saja bagaimana menyampaikan alur cerita menggunakan gestur dan mimik oleh para aktor.

Kehadiran video mapping sebagai unsur dekoratif pertunjukan dipercayakan kepada Kukuh Ramadhan. Tembakan proyeksi visual di dinding sebagai latar ini bukan hanya mempercantik, tapi juga menuntun penonton untuk menandai konteks perpindahan antarbabak yang terdiri dari beberapa rentang waktu.

Peserta workshop seni Cukil terlihat teliti menerapkan teknik pahat pada medium. (Foto: Juenita Vanka/Tutura.Id)

Pementasan teater tubuh tadi adalah sajian pamungkas dari keseluruhan rangkaian kegiatan seni yang digelar oleh Komunitas Seni Tadulako. Bertajuk “Tadulako Neolitikum Voice”, kegiatan ini bertempat di Auditorium Untad pada 11-12 Agustus 2023.

Pada hari pertama, Gelar Karya Komunitas Seni Tadulako diisi dengan gelaran pemeran karya fotografi karya lukis, seni instalasi, pertunjukan seni musik, hingga lokakarya seni. Adapun karya yang ditampilkan merupakan hasil kerja, karsa, dan rasa para pegiat seni lokal Sulteng dan mahasiswa Untad.

Salah satu kegiatan yang menarik dan mendapatkan perhatian adalah "Workshop Performing Arts." Sedikitnya 30 peserta mengukuti lokakarya seni rupa dengan teknik cukil kayu alias woodcut ini.

Cukil merupakan sebuah seni cetak tinggi (relief) yang dalam penerapannya menggunakan teknik pahat pada permukaan lembar kayu, linoleum, hardboard atau karet vinyl yang dipahat atau dicukil sebagai acuan cetak atau plat.

Bagian yang bukan merupakan gambar atau tidak dicetak selanjutnya dicukil. Sementara bagian gambar yang tidak dicukil akan tetap sejajar dengan permukaan plat. Cukil juga merupakan teknik seni grafis paling awal dan merupakan satu-satunya yang dipakai secara tradisional di Asia Timur. Seni cukil kayu disebut juga dengan istilah xilografi (xylography). 

Anisa Febriani, salah satu peserta lokakarya yang juga merupakan kontributor lukisan dalam Gelar Karya Komunitas Seni Tadulako, mengaku menemukan tantangan baru saat belajar seni cukil ini. Menurutnya, cara cetak yang perlu ketelitian dan perhitungan matang ini merupakan teknik yang unik dan patut untuk di coba. 

"Untuk saya yang lebih familiar dengan kuas dan cat itu, cukil ini jadi tantangan baru. Apalagi tekniknya susah gampang. Harus mengikuti pola dan harus lebih teliti dalam prosesnya supaya gambarnya bisa terbentuk seperti seharusnya. Intinya ini tidak segampang yang saya nonton di media sosial ternyata," jelasnya.

Penyelenggara Gelar Karya Seni Komunitas Tadulako berfoto bersama Rektor Untad dan jajarannya di lokasi kegiatan yang berpusat di Auditorium Untad (Foto: Juenita Vanka/Tutura.Id)

Terbukanya dukungan terhadap kesenian

Pemilihan tajuk “Tadulako Neolitikum Voice” dalam Gelar Karya Komunitas Seni Tadulako beriring harapan agar kegiatan berkesenian itu dapat membangun ruang diskusi melalui pendekatan berbasis riset-observasi. Salah satunya melalui pengetahuan lokal dalam bentuk seni pertunjukan multidisipliner yang diharapkan jadi magnet bagi pengunjung.

Konsep ini merupakan bagian dari upaya mendorong inventarisasi budaya yang berdampak terhadap terciptanya ekosistem kesenian dalam rangka perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, serta pembinaan dengan membangun kerja sama yang erat dari seluruh pihak untuk pemajuan kebudayaan Sulawesi Tengah yang berkelanjutan. 

Hapri Ika Poigi selaku Direktur Eksekutif Yayasan Tadulakota kepada Tutura.Id mengatakan, pergelaran karya seni seperti ini diharapkan hanya awalan agar kelak lebih banyak ruang publik yang bisa memberi dukungan terhadap aktivitas berkesenian.

Contohnya pelaksanaan Gelar Karya Komunitas Seni Tadulako yang memanfaatkan Auditorium Untad. Sekalipun gedung ini adalah milik dan berada di kawasan kampus, namun kemitraan yang terjalin bersama Rektor Untad beserta jajarannya membuat kegiatan ini akhirnya bisa terselenggara.

Aktivitas seni yang hadir di tengah-tengah civitas akademika itu, tembah Hapri, akan menjadikan kebudayaan dapat dilihat sebagai sebuah investasi jangka panjang. Khususnya dalam melihat kedudukan kebudayaan dan ekonomi di tengah masyarakat yang didukung oleh Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni (IPTEKS). 

Saat ini ekonomi tidak hanya bisa didukung melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi seni pun dibutuhkan sebagai ruang ekspresi bebas yang mempunyai peran penting.

Dalam lingkup Universitas Tadulako yang merupakan lumbung pengetahuan, jelas Hapri, apabila tidak memberikan ruang terhadap kesenian, maka teknologi dan pengetahuan akan terasa lebih kering dan gersang. Sebab, tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan diri sebagai individu.

“Komunitas Seni Tadulako mempunyai impian bahwa nantinya melalui pergelaran seni seperti ini, berkesenian dan local wisdom kemudian dapat dilihat menjadi sebuah investasi jangka panjang serta rumah bagi masyarakat luas untuk bisa mengekspresikan dirinya dengan didukung IPTEKS,” pungkas Hapri yang juga Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Tengah. 

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
0
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Nova Ruth dan Grey Filastine: Arka Kinari adalah kapal kebudayaan
Nova Ruth dan Grey Filastine: Arka Kinari adalah kapal kebudayaan
Nova Ruth dan Grey Filastine mengarungi samudra mengandalkan kapal layar Arka Kinari. Menyebarkan pesan tentang…
TUTURA.ID - Mengurai benang kusut antara musisi lokal dengan penyelenggara acara
Mengurai benang kusut antara musisi lokal dengan penyelenggara acara
Musisi dan penyelenggara acara alias EO yang hidup berdampingan dalam ekosistem musik seharusnya saling menguntungkan.
TUTURA.ID - Generasi digital, kenali warisan budaya melalui permainan tradisional
Generasi digital, kenali warisan budaya melalui permainan tradisional
Festival Permainan Rakyat Sulteng menghadirkan beberapa permainan tradisional yang eksistensinya makin asing bagi anak-anak generasi…
TUTURA.ID - Asa menghadirkan cagar budaya di Kota Palu
Asa menghadirkan cagar budaya di Kota Palu
Kota Palu menyimpan banyak potensi Objek yang Diduga Cagar Budaya. Namun, belum ada satu pun…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng