Mencipta harmoni antara musisi dengan lingkungan
Penulis: Mughni Mayah | Publikasi: 8 Juli 2023 - 17:53
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Mencipta harmoni antara musisi dengan lingkungan
Para musisi tanah air yang tergabung dalam gerakan The Indonesian Knowledge, Climate, Art & Music (IKLIM) | Foto: Istimewa

“Tidak ada musik di planet yang mati” adalah narasi kampanye yang digaungkan Fay Milton, drummer Savages, lewat organisasi Music Declares Emergency sejak 2019.

Kalimat tadi berisi pesan dan makna luas betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan demi mencegah terjadinya kembali kepunahan massal.

Berbagai penelitian menyebut kepunahan massal mahluk hidup terjadi beberapa kali di permukaan bumi yang usianya sudah miliaran tahun ini. Ancaman serupa bisa datang lebih cepat dari prediksi karena aktivitas manusia.

Gejala dan dampaknya sudah nyata terasa sekarang. Bencana hidrometeorologi, antara lain banjir bandang, gelombang panas, badai es, longsor, angin kencang, dan kekeringan jadi lebih sering lantaran masifnya kerusakan lingkungan.

Beragam spesies mati hingga akhirnya punah. Banyak orang terpaksa mengungsi bahkan meregang nyawa.

Sementara di tempat lain praktik penebangan pohon, perburuan liar terhadap hewan, industri ekstraktif, dan gaya hidup tidak ramah lingkungan terus saja berlangsung.

Keinsafan untuk tidak termasuk dalam golongan perusak itu yang melandasi para musisi lintas negara bersimpul menggaungkan pesan “No music on a dead planet”.

Sejumlah nama populer yang ikut mendukung kampanye tersebut berasal dari lintas genre, antara lain Billie Eilish, The 1975, Bon Iver, Arcade Fire, Radiohead, Napalm Death, Major Lazer, The Pretenders, Annie Lennox, dan Tame Impala.

Ada yang memutuskan bergerak kolektif, tidak sedikit juga yang memilih berjalan sendiri. Tujuannya sama; mendorong pelestarian lingkungan dan keberlangsungan kehidupan yang layak bagi generasi mendatang.

Terlebih industri musik juga berkontribusi melepas emisi karbon yang menjadi salah satu penyebab terjadinya pemanasan global.

Billie Eilish turut menggemakan kampanye "No music on a dead planet" (Sumber: musicdeclares.net)

Jika menilik lebih ke belakang perjalanan industri musik populer tanah air, ikhtiar membangun kesadaran pentingnya melestarikan alam atau protes terhadap kerusakan lingkungan sebenarnya telah dilakukan oleh sejumlah musisi.

Tengok saja katalog album mendiang Gombloh (aslinya bernama Soedjarwoto). Lagu “Berita Cuaca” yang termuat dalam album bertajuk sama rilisan 1982 eksplisit menyuarakan itu. Simak larik bagian refreinnya;

Mengapa tanahku rawan ini

Bukit-bukit pun telanjang berdiri

Pohon dan rumput enggan bersemi kembali

Burung-burung pun malu bernyanyi.

Satu dekade berselang, kugiran Slank menyuarakan fakta serupa lewat lagu “Nggak Perawan Lagi” dari kantong album Generasi Biru (1994). Kaka dkk. mengkritisi kondisi hutan rimba Indonesia yang alih-alih lebat malah botak dan tandus.

Hampir setiap dekade muncul barisan musisi yang sadar dengan posisinya sebagai figur dengan banyak massa atau penggemar untuk mendorong perubahan. Istilah kerennya musisi sebagai agent of change.

Sebagian musisi tersebut kemudian setuju bergabung dalam sebuah gerakan bernama The Indonesian Knowledge, Climate, Art & Music (IKLIM). Mereka adalah Navicula, Fiersa Besari, Iga Massardi (dari Barasuara), Endah Widyastuti (Endah N’ Rhesa), Iksan Skuter, Tony Q Rastafara, Tuan Tigabelas, FSTVLST, Rhythm Rebels, Kai Mata, Made Mawut, dan Guritan Kabudul—duo folk asal Tentena, Poso, Sulawesi Tengah.

Inisiatif menyatukan musisi, seniman, organisasi lingkungan, dan pakar iklim Indonesia dalam sebuah gerakan muncul dari Gede Robi Supriyanto, pentolan band Navicula asal Bali.

Robi dkk. ingin terus menyuarakan kesadaran dalam mengambi tindakan terhadap krisis iklim lewat musik.

“Kami sudah merencanakan kegiatan ini selama bertahun-tahun. Kami ingin mengampanyekan kedaruratan lingkungan ini melalui musik dan diharapkan bisa berimbas ke penggemar kami sehingga bisa mempercepat perubahan,” ujar Robi dalam keterangan persnya (15/6/2023).

Robi, gitaris dan vokalis berusia 44 yang lahir di Palu, telah lama menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan bersama Navicula. Bukan hanya lewat karya lagu, tapi melalui jalan aktivisme.

“Krisis iklim itu di depan mata. Efeknya sudah kita rasakan. Sebagai musisi, cara kita untuk ikut mendorong kesadaran yang lebih luas adalah dengan musik dan saya rasa inisiasi gerakan ini di Indonesia adalah efek bola salju dari gerakan sebelumnya,” tegas Made Mawut menyitir Pophariini.

Riston Pamona (kanan) dan Reymond Kuhe, duo penggagas Guritan Kabudul asal Kota Tentena, ikut terlibat dalam gerakan IKLIM (Foto: Istimewa)

Partisipasi Guritan Kabudul

Riston Pamona dan Reymond Kuhe, otak di balik lahirnya Guritan Kabudul sejak 2018, bersua Robi ketika sama-sama mengisi panggung Festival Mosintuvu 2022.

Terpincut karya bertajuk “Tanah, Air, Hutan” yang dibawakan Guritan Kabudul dalam acara tersebut, Robi langsung mengajak duo ini berpartisipasi dalam IKLIM. Sebuah ajakan yang tentu saja langsung mereka sambut dengan senang hati.

Alhasil Guritan Kabudul bersisian dengan sejumlah musisi lain di tanah air yang turut gabung dalam inisiatif ini.

Menurut Icong, sapaan akrab Riston, Tentena dan Sulawesi Tengah secara umum juga punya masalah lingkungan sendiri.

Langkah yang mereka lakukan ini merupakan bentuk kesadaran selaku warga Bumi. Kondisi tempat yang sama kita tinggali sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja lantaran krisis iklim.

“Tentena makin hari makin panas. So tidak dingin macam dulu. Di Sulawesi Tengah, penyumbang emisi karbon terbesar adalah penggunaan batu bara. Material penghancur terdapat di perusahaan yang ada di Sulawesi Tengah,” jelas Icong saat kami hubungi via telepon, Jumat (7/7/2023).

Para musisi yang punya keresahan dan kepedulian serupa kemudian diajak bergabung dalam IKLIM. Robi menyadari kampanye penyadaran lingkungan akan berdampak lebih besar jika dikerjakan secara kolektif.

Agenda pertama mereka adalah mengadakan lokakarya dengan tema “Sound the Alarm” di The Mansion Ubud, Bali (12-15/7). Pemilihan tema itu merujuk kondisi lingkungan yang sudah sangat darurat hingga alarm harus dibunyikan.

Kegiatan yang diikuti para musisi ini coba mengupas banyak hal soal krisis iklim. “Kami saling berdiskusi tentang iklim dan mengikuti lokakarya yang menghadirkan pembicara ahli di bidangnya dengan pendekatan ilmiah. Dan memang musisi memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran publik tentang isu iklim di Indonesia,” imbuh Robi.

Setelahnya para musisi ikut menanam pohon bersama di Monkey Forest Ubud. Ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab mengimbangi emisi karbon yang mereka hasilkan dari perjalanan menuju Bali.

Para musisi ini memahami bahwa aksi nyata harus dilakukan sekarang, memulainya dari lingkungan sekitar, tanpa harus menunggu narasi besar yang terkadang hanya sekadar slogan pepesan kosong.

Sadar atau tidak, kita ikut berkontribusi terhadap krisis iklim yang terjadi sekarang. “Jika Bumi itu surga, kita adalah pencipta neraka, Jika esok kiamat, itu karena kita,” begitu Icong melontarkan narasi terakhir menutup perbincangan dengan kami.

Laiknya musisi yang mencipta karya, gerakan IKLIM akan pula menghasilkan sebuah album kompilasi bertema lingkungan dan krisis iklim. “Album yang masih kami rahasiakan tajuknya akan diluncurkan pada bulan Agustus ini,” kata Gina Lonclek, salah satu tim pendukung IKLIM.

IKLIM akan memberikan dukungan teknis dan kreatif, serta menanggung biaya proses produksi karya para musisi yang terlibat.

Album tersebut diproduksi oleh Alarm Record, sebuah label musik ramah lingkungan pertama di Indonesia. Oleh karena itu, seperti apa bentuk dari album kompilasi tersebut akan diperhitungkan dengan cermat.

Pasalnya aktivitas dalam industri musik selama ini juga menyumbang pelepasan emisi karbon. Satu contoh penggunaan listrik dalam acara festival, konser, maupun platform musik digital melalui server data, jaringan, dan perangkat konsumen.

Kita tahu kebanyakan sumber energi listrik masih berasal dari bahan bakar fosil yang tidak ramah lingkungan.

Sebuah karya ilmiah bertajuk “Streaming Media’s Environmental Impact” yang terbit 2020 mengungkap, platform streaming bertanggung jawab atas 3-4% jejak karbon global. Dan jumlah terus diprediksi meningkat dengan cepat seturut makin banyaknya pengguna.

Menikmati satu jam layanan streaming menghasilkan sekitar 55 gram setara CO2 yang artinya setara dengan mengisi daya/baterai tujuh ponsel.

Bayangkan saja berapa jejak karbon yang mengambang ke atmosfer dari sebuah konser dengan dukungan tata suara dan cahaya ratusan ribu watt.

Untuk menekan kontribusi pelepasan karbon itu, ada banyak musisi yang sudah menyelenggarakan pertunjukan lebih ramah lingkungan. Navicula berulang kali tampil mengandalkan listrik dari tenaga surya dan sampah plastik.

Coldplay jadi nama besar terbaru dari ranah mainstream yang mengikuti jejak itu lewat tur dunia “Music of the Spheres”. Chris Martin dkk. menggunakan tenaga surya, minyak goreng daur ulang dari restoran lokal, dan sumber energi terbarukan lainnya sebagai penopang kebutuhan listrik mereka selama manggung.

Untuk menangkap emisi karbon yang terlepas dari tiap konser, Coldplay menggunakan alat buatan Climeworks, perusahaan penangkap karbon dari Swiss. Nantinya karbon yang tertangkap akan dipakai untuk campuran minuman bersoda.

Sementara pesawat yang digunakan para personel berkeliling dunia menggelar tur memakai bahan bakar dari limbah. Setiap lembar tiket yang terjual juga akan disubtitusi dengan menanam satu pohon.

Beberapa penyelanggara konser dan festival juga telah menekankan pentingnya mereduksi penggunaan plastik sekali pakai. Setiap penonton disarankan membawa tumbler minuman sendiri ketimbang membeli air dalam kemasan plastik.

Kebersihan lokasi pertunjukan juga makin diperhatikan dengan menyebar lebih banyak tempat pembuangan sampah. Terkesan sederhana dan kecil, tapi bisa jadi besar manfaatnya jika menjadi kebiasaan banyak orang.

Andi Baso Djaya turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
1
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
2
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Data banjir di Sulteng: 207 peristiwa dalam satu dekade
Data banjir di Sulteng: 207 peristiwa dalam satu dekade
Pada 2019, ada 18 banjir di Sulteng. Angka itu naik lebih dua kali lipat hingga…
TUTURA.ID - Mosivinti: Permainan pecah betis ala Suku Kaili
Mosivinti: Permainan pecah betis ala Suku Kaili
Adu ketangkasan untuk "memecahkan" betis lawan alias mosivinti. Permainan tradisional yang hadir di Festival Literasi.
TUTURA.ID - Budi Hi. Lolo: Ingin mendatangkan artis luar negeri konser di Palu
Budi Hi. Lolo: Ingin mendatangkan artis luar negeri konser di Palu
Ketua Backstagers Indonesia Sulteng membagikan pandangannya terkait iklim bisnis pertunjukan di Bumi Tadulako.
TUTURA.ID - Mengenal lebih dekat ''Negeri Seribu Megalit''
Mengenal lebih dekat ''Negeri Seribu Megalit''
Pemprov Sulawesi Tengah mengusung situs-situs peninggalan zaman megalitikum sebagai jualan wisata utama. Bahkan hendak menjadikannya…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng