Pandangan medis soal tren kecantikan ala TikTok soal ''top teeth speaker'' dan ''bottom teeth speaker''
Penulis: Sindi Dian Wahyuningtias | Publikasi: 16 Mei 2024 - 11:56
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Pandangan medis soal tren kecantikan ala TikTok soal ''top teeth speaker'' dan ''bottom teeth speaker''
Kompilasi konten video tren "Top and Bottom Teeth Speaker" di Tik Tok. Paling banyak video ini menggunakan sound Hide Away milik Daya. (Foto: Tangkapan Layar Tik Tok)

Platform media sosial TikTok terus menjadi sumber dari berbagai tren viral. Salah satunya adalah kecantikan. Teranyar adalah top teeth speaker dan bottom teeth speaker,  di mana mengukur kecantikan seseorang dari kemunculan giginya saat sedang berbicara; apakah gigi atasnya kelihatan (top teeth speaker) atau gigi bawahnya (bottom teeth speaker).

Ukuran kecantikan yang nyeleneh ini, sejatinya telah ada sejak Tahun 2022, namun kembali populer dengan kemunculan beberapa pemengaruh kecantikan (beauty influencer) di TikTok baru-baru ini. Mereka membawa kembali topik ini dan segera saja langsung dikonsumsi warganet.

Aktris Megan Fox jadi pemicu awal kembali munculnya tren ini. Saat menjadi bintang tamu dalam acara siniar alias podcast “Call Her Daddy” bersama Alex Cooper (20/3/2024), pemeran Mikaela Banes dalam seri film Transformer ini menyebut dirinya sebagai seorang bottom teeth speaker.

Peraih gelar "Perempuan paling seksi 2008" versi majalah FHM ini dianggap punya cara bicara yang sangat atraktif, kuat, berani, memikat perhatian lawan bicara, dan tentu saja seksi.

Lantaran ingin sama memikatnya dengan Fox, bottom teeth speaker langsung menjadi standar kecantikan baru. Topik ini kembali menjadi pembicaraan dan kebanyakan perempuan langsung mengecek apakah dirinya juga termasuk bottom teeth speaker atau tidak.

Kurun dua pekan terakhir sejak awal Mei 2024, pembahasan soal topik ini terus mengemuka, termasuk di Indonesia. Hanya saja ada beberapa perbedaan dibandingkan kemunculan pertamanya. 

Pertama, tren “standar kecantikan ideal” ini lebih banyak menarik beauty influencer Indonesia. Meskipun secara global, tren ini juga muncul di berbagai negara lain dalam waktu yang bersamaan.

Mereka berlomba-lomba memuat konten ini dari berbagai sudut padnang. Ada yang membahas soal sejarah kemunculan tren, menjelaskan soal tren ini apa, hingga memberikan tips bagaimana bisa menjadi seorang top teeth speaker dan bottom teeth speaker.

Untuk memperlihatkan apakah seseorang disebut top teeth speaker atau bottom teeth speaker, mereka membuat video lipsync menggunakan lagu "Hide Away" milik Daya untuk melihat gigi bagian mana yang cenderung lebih terlihat saat menyanyikan lirik lagu tersebut.

Warganet di TikTok meresponsnya dengan membuat video serupa untuk mengetahui apakah dirinya top teeth speaker atau bottom teeth speaker. Begitu seterusnya, hingga tren ini viral di TikTok kemudian merambah ke Instagram.

Kedua, perbedaan yang mencolok antara tren 2022 dan 2024 adalah pergeseran standar kecantikan. Bila dulunya Megan Fox dengan bottom teeth speaker-nya yang paling ideal, maka di Indonesia top teeth speaker dianggap lebih cantik.

Para beauty influencer Indonesia menganggap top teeth speaker lebih menarik karena memberikan kesan lebih muda dan ceria. Sedangkan orang dengan kebiasaan bottom teeth speaker terlihat lebih tua. Tidak disebutkan rujukan ilmiah di balik kesan ini.

Struktur rahang dan ukuran bibir lebih memengaruhi kebiasaan orang saat berbicara secara alamiah | Sumber: geralt/pixabay.com

Tidak relevan secara medis

Penilaian orang top teeth speaker yang dianggap lebih cantik ketimbang orang bottom teeth speaker ini cukup mempengaruhi isi kepala warganet.

Berdasarkan penelusuran Tutura.Id, tidak sedikit konten TikTok  yang membahas tips bagaimana menjadi top teeth speaker, caranya dengan menarik ujung bibir ke atas dan senyum selama erbicara. Sementara untuk mendapatkan bottom teeth speaker cukup dengan muka datar tanpa tarikan bibir.

Namun, apakah penilaian ini benar adanya? Bagaimana sains dan ilmu kedokteran menilainya? drg. Ratih Apriani, seorang dokter gigi yang berbasis di Kota Palu memberikan penjelasan soal ini.

Kepada Tutura.Id, Selasa (14/05), Ratih menjelaskan terlihatnya gigi atas atau top teeth speaker atau gigi bawah saat berbicara (bottom teeth speaker) terjadi karena beberapa hal. Salah satunya karena adanya aktivitas bibir.

“Sebenarnya hal itu sangat normal dan lumrah karena kita sangat sering menggunakan bibir kita. Maka adanya perubahan itu bukanlah masalah. Namun, di beberapa orang hal ini bisa didapatkan sejak lahir (natural, red)”, kata Ratih via WhatsApp.

Dia menjelaskan faktor usia memengaruhi orang menjadi top teeth speaker atau bottom teeth speaker. Seiring bertambahnya usia, bibir atas cenderung mulai kehilangan elastisitasnya dan terlihat semakin panjang.

Inilah alasan mengapa beberapa orang dengan bottom teeth speaker terlihat memiliki wajah yang lebih tua, karena bibir ini semakin panjang menutupi gigi atas. Dengan begitu, ketika berbicara hanya terlihat gigi bagian bawahnya.

Sedangkan beberapa orang memiliki bibir atas yang sangat hiperaktif, sehingga gusinya terlihat lebih banyak dan cenderung lebih banyak menggunakan bibir bagian atas. Di antaranya mereka yang memiliki gummy teeth (gusi tampak lebih tebal).

Orang dengan top teeth speaker bisa juga memiliki anatomi bibir bibir atas yang lebih pendek ketimbang bibir bawahnya. Ini merupakan bawaan sejak lahir.

“Kalau dalam istilah kedokteran gigi, tren ini disebut dengan istilah dimensi vertikal oklusi”, tambah Ratih.

Dimensi vertikal oklusi yaitu mengukur seberapa dekat jarak hidung dan dagu ketika dalam posisi gigi atas dan bawah menyatu. Pada beberapa orang ada yang jauh lebih tinggi dan lebih terbuka. Sebagian lagi ada yang lebih dekat dan lebih pendek seiring bertambahnya usia.

Ratih menyebut sejatinya ada yang lebih memengaruhi profil wajah kita saat berbicara, yaitu ukuran rahang atas dan bibir atas apakah lebih panjang atau lebih pendek.

Dus, tak perlu risau soal menjadi top teeth speaker atau bottom teeth speaker. Pasalnya kebiasaan tersebut lumrah dan wajar dialami oleh manusia seiring dengan bertambahnya usia, aktivitas, dan gaya hidup.

Apalagi bila di masa depan yang tadinya top teeth speaker berubah menjadi bottom teeth speaker. Sebab sangat mungkin terjadi perubahan pada sturuktur wajah. Apalagi bibir dan rahang menjadi salah satu anggota tubuh yang sering digunakan untuk berbicara. Pun digunakan untuk makan dan minum.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
0
Jatuh cinta
4
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Medsos: Panggung politik utama untuk menggaet pemilih muda
Medsos: Panggung politik utama untuk menggaet pemilih muda
Anak muda lebih suka mencerna gagasan dan informasi lewat medsos. Politisi tentu saja melirik medsos.…
TUTURA.ID - Siasat tetap modis dan sehat di bawah teriknya matahari
Siasat tetap modis dan sehat di bawah teriknya matahari
Cuaca terik yang belakangan terjadi di Palu tak hanya memengaruhi kesehatan, tapi juga penampilan. Harus…
TUTURA.ID - Kemilau Gisella Julianne dalam ajang Duta Pariwisata Remaja Indonesia 2022
Kemilau Gisella Julianne dalam ajang Duta Pariwisata Remaja Indonesia 2022
Gisella Julianne (17) asal Morowali berhasil terpilih menjadi Duta Pariwisata Remaja Indonesia 2022. Kini fokus…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng