Perjuangan Duta Baca Sulteng, Irzan: Bangun taman baca di bekas kandang kambing
Penulis: Mughni Mayah | Publikasi: 8 Desember 2023 - 16:48
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Perjuangan Duta Baca Sulteng, Irzan: Bangun taman baca di bekas kandang kambing
Duta Baca Sulteng periode 2023-2027, Irzan. (Foto: Mughni Mayah/Tutura.Id)

Di bawah teduhnya rindang rimbunan pohon bambu tepi pantai Tipo, Kota Palu, sebuah bangunan bertingkat berbahan kayu berdiri kokoh. Di dalamnya tampak berjejer rak-rak buku dengan ruang yang cukup untuk duduk dan membaca.

Bangunan itu milik Taman Baca Masyarakat (TBM) Sou Mpombaca Tatavuri yang didirikan oleh Irzan. Pria kelahiran  28 Mei 1994 di Kota Palu ini, kini resmi menyandang gelar sebagai Duta Baca Sulawesi Tengah periode 2023-2027.

Irzan terpilih melalui rapat dewan juri pemilihan Duta Baca Sulteng yang digelar pada Senin (4/12/2023). Selama empat tahun ke depan dirinya tidak hanya punya tanggung jawab membesarkan TBM-nya, tetapi sekaligus mengemban tugas yang lebih besar di luar lingkar komunitas bacanya.

Sebagai Duta Baca, Irzan diharapkan dapat meningkatkan budaya baca di tengah budaya lisan atau tutur yang melekat di masyarakat. Sekaligus melaksanakan kampanye atau sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca (PKM) selama periode 2023-2027.

Kepada Tutura.Id, Irzan mengaku tak menyangka dunia literasi menuntunnya hingga sampai pada titik menjadi Duta Baca Sulteng. Sebab selama ini dirinya hanya berpikir untuk mengembangkan TBM Sou Mpombaca Tatavuri yang didirikannya sejak 2017.

Namun perlahan tapi pasti, performa TBM Sou Mpombaca Tatavuri mendapatkan pengakuan sebagai komunitas bahasa dan sastra terbaik di Kota Palu dari Balai Bahasa Sulteng pada 2023. 

Atas predikat terbarunya sebagai Duta Baca Sulteng, Irzan berbagi cerita tentang sepak terjangnya di dunia literasi dan mimpi besarnya dalam mengembang gelar ini. Berikut percakapan bersama Irzan saat ditemui Rabu (6/12/2023).

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Balai Bahasa Sulteng (@balaibahasasulteng)

Bagaimana awalnya tertarik dengan dunia literasi?

Saya sebetulnya di masa kecil tidak terlalu dekat dengan buku, tidak punya kenangan itu. Semisal dikasih orang tua buku atau diajak ke mana, misalnya. Tapi, saya sejak SMA sering ikut kegiatan sosial di desa-desa bersama masyarakat dan membawa buku.

Dari sanalah saya merasa ternyata asyik belajar sambil bermain dengan anak-anak. Setiap saya pulang dari kegiatan ini berpikir ingin mempunyai ruang yang sama di daerahku, di Kelurahan Tipo ini. Hingga sampailah TBM Sou Mpombaca Tatavuri ini berdiri dan didatangi peserta didik. Pernah sampai 30 anak di sini.

Siapa sosok inspirasimu di bidang literasi ?

Pak Said, pamanku sendiri. Beliau turut mendukung dan membantu saya. Kami sama-sama menggagas TBM Tatavuri dengan tanpa keribetan berpikir seperti memikirkan sumber uang dari mana, dan hanya dengan bahan yang seadanya.

Pada 2017, waktu itu TBM Tatavuri hanya menggunakan buku bekas pakai di sekolah. Lokasi TBM ini dulunya lahan kandang kambing bekas peninggalan nenek. Seiring berjalannya waktu, ternyata anak-anak ini juga tertarik ketika diberi ruang. Akhirnya mereka datang dengan sendirinya.

Apa buku pertama yang membuatmu tertarik untuk menekuni dunia baca?

Judul bukunya “Anak Bukan Kertas Kosong” karya Bukik Setiawan, seorang psikolog. Saya ketemu buku itu tahun 2018 diberi seorang teman dari Taman Baca Pelita sewaktu mereka lapak baca di halaman TVRI. Di dalam buku itu menjelaskan secara spesifik bagaimana cara mendidik anak dari usia ke usia dan di dalamnya ada teori-teori pendidikan.

Kira-kira dalam setahun bisa menghabiskan berapa buku bacaan?

Relatif sih, biasanya dalam setahun kalau saya sedang menemukan buku yang disenangi bisa lima judul buku. Walaupun menurutku masih sedikit sekali. Paling tidak ada buku rutin yang masih sering saya baca. Misal, hanya menghabiskan satu halaman dalam sehari kadang juga se-bab.

Untuk saat ini lagi sedang menyelesaikan bacaan buku apa?

Saya lagi tertarik dengan buku sejarah dan pendidikan. Menurutku pendidikan di masyarakat itu mesti harus ditumbuhkan. Kalau sekarang, lagi sedang membaca buku seri Kompas yang judulnya “Bapak Republik yang Dilupakan".

Buku ini menceritakan tentang Tan Malaka. Saya penasaran dengan sosok ini, karena tertarik melihat Indonesia itu seperti apa di masa 1920-an sampai era kemerdekaan itu peristiwa yang terjadi itu seperti apa.

Apa tantangan yang dihadapi selama menjadi pegiat literasi?

Mengumpulkan orang-orang yang tertarik dengan literasi dan menemukan buku yang tepat untuk dibaca masyarakat. Saya tidak punya biaya yang besar untuk mencari buku itu. Tapi, saya berusaha terus untuk bagaimana cara mendapat buku-buku.

Kalau di Kelurahan Tipo ini dulu tantangannya mengajak anak-anak datang. Jawabanya ternyata bukunya tidak tepat. Dulu buku yang saya sediakan adalah buku-buku bekas pakai di sekolah yang tidak menarik bagi anak-anak. Misalnya, narasi yang terlalu padat, tidak ada gambarnya atau pilihan warna-warna gelap. Itu mempengaruhi psikologi anak membaca.

Irzan akan memanfaatkan tanggung jawab yang diberikan dan juga jejaring literasi untuk meningkatkan kegemaran membaca di kalangan masyarakat. (Foto: Mughni Mayah/Tutura.Id)

Mengapa  gerakan literasi di TBM ini menyasar lebih banyak ke anak-anak?

Anak-anak itu genarasi akar dasar yang dekat dengan kita. Anak-anak punya daya rekam yang kuat. Peniru yang baik. Nah, kalau sejak anak-anak tidak diperkenalkan jangan tanya dia nanti besar akan seperti apa. Pasti akan tidak sesuai dengan harapan. Lalu, dalam perjalanannya kita akan menyasar ke anak muda, kemudian yang dewasa.

Setelah lama menjadi pegiat literasi, mengapa tertarik daftar Pemilihan Duta Baca Sulteng ?

Saya ingin lebih luas lagi berkolaborasi yang berkaitan dengan isu literasi, karena menjadi duta baca itu berarti juga memperluas jejaring. Dalam hal gerakan literasi ya.

Saya juga ingin lebih dekat bersama kawan-kawan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan di Sulteng. Menjalankan misi gerakan literasi gemar membaca.

Selama empat tahun ke depan tugas Duta Baca adalah mengampanyekan gemar membaca ini. Kira-kira strategi apa yang akan dilakukan?

Dulu sering sekali orang bertanya ke saya, buku apa yang bagus saya baca? rekomendasikan dulu saya buku. Hal pertama yang saya katakan coba cari buku yang tipis dulu, jangan langsung buku yang tebal, atau hanya melihat sampul.

Saya dulu ketika di TBM ini, banyak buku anak-anak. Saya melihat buku anak-anak ini selalu ada pesan moral, cerita pendek dengan gambar. Ada teori yang berat tetapi dikemas dengan bahasa yang sederhana. Jadi akhirnya terbiasa melihat buku langsung mau baca lalu menantang diri dengan membaca buku yang tebal. 

Apa target yang akan dicapai sebagai Duta Baca ke depannya?

Tentunya capaiannya indeks minat baca di Sulteng itu meningkat dan menguatkan enam literasi dasar. Yang akan saya lakukan untuk mencapainya adalah bagaimana menjangkau teman-teman pegiat literasi di daerah yang belum saya jangkau. Target saya ingin bertemu dengan mereka-mereka ini untuk saling berkoordinasi memberi peran masing-masing dalam isu literasi.

*) Enam literasi dasar yang dimaksud ialah baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
5
Jatuh cinta
3
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Menyoroti kurangnya isu pro lingkungan oleh media-media di Sulteng
Menyoroti kurangnya isu pro lingkungan oleh media-media di Sulteng
Para jurnalis diharapkan berupaya lebih mendalam untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang isu-isu lingkungan.
TUTURA.ID - Menggalakkan pendanaan ekologis dalam kebijakan lingkungan di Sulawesi Tengah
Menggalakkan pendanaan ekologis dalam kebijakan lingkungan di Sulawesi Tengah
Yayasan Sikola Mombine bersama Dinas Lingkungan Hidup Sulteng mengadakan lokakarya yang mendorong pemda memanfaatkan anggaran…
TUTURA.ID - Mohamad Irwan Lapatta: Insya Allah, saya dapat restu Partai Golkar untuk Pilkada Sulteng
Mohamad Irwan Lapatta: Insya Allah, saya dapat restu Partai Golkar untuk Pilkada Sulteng
Politisi Partai Golkar, Mohamad Irwan mengomentari bursa Pilkada Sulteng 2024. Ia juga bercerita ihwal pelbagai…
TUTURA.ID - Pasang surut relasi Ahmad Ali dan Rusdy Mastura
Pasang surut relasi Ahmad Ali dan Rusdy Mastura
Ahmad Ali membantah isu ketegangan politik antara dirinya dengan Rusdy Mastura. Katanya, isu ini diembuskan…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng