Buaya berkalung prestasi dari kompetisi film pendek internasional
Penulis: Juenita Vanka | Publikasi: 4 Mei 2023 - 16:35
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Buaya berkalung prestasi dari kompetisi film pendek internasional
Taufiqurrahman Kifu (tengah) bersama Sarah Adilah (kiri) dan Raras Umaratih memamerkan sertifikat penghargaan yang mereka terima dari International Short Film Festival Oberhausen (Sumber: Sinekoci)

Buaya kini tak lagi berkalung ban, tapi penghargaan khusus dari Internationale Kurzfilmtage Oberhausen, salah satu festival film pendek terpenting di dunia. Julukan sebagai “Mekah-nya film pendek” mungkin bisa jadi ilustrasi betapa prestisius ajang ini.

Capaian itu dicatatkan oleh film Saya di Sini, Kau di Sana (A Tale of the Crocodile’s Twin), selanjutnya ditulis Buaya, arahan Taufiqurrahman Kifu.

Awal terpilihnya film Buaya berkompetisi di kategori “International Competition” tersiar sejak awal 2023. Sementara penyelenggaraan festival berlangsung di Oberhausen (baca: oobehauzen), Jerman, pada 26 April-1 Mei 2023.  

“Film ini membawa sejarah dan tradisi lisan ke masa sekarang dengan kesadaran akan situasi ekologis nan genting saat ini. Coba menampilkan unsur lokal untuk berbicara tentang masalah yang lebih luas secara global dengan cara yang ringan namun serius.” Demikian nukilan pernyataan dewan juri menanggapi film Buaya.

Ufiq, sapaan akrab sang filmmaker, dalam film berdurasi sekitar 18 menit ini coba menghadirkan realita berbagi ruang hidup antara manusia dan buaya di perairan sekitar Kota Palu.

Egoisme manusia yang populasinya kian bertambah pada akhirnya merenggut ekosistem asli reptil dengan nama latin Crocodylidae. Maka tak jarang kita mendengar berita, entah manusia atau buaya, ada yang jadi korban.

Padahal dahulu kala, penduduk di Lembah Palu bisa tetap rukun tanpa harus saling menyerobot ruang hidup dengan binatang buas ini. Saking harmonisnya, tak jarang beberapa orang kerap disebutkan punya kembaran buaya.

Ketika dihubungi Tutura.Id (2/5/2023), Ufiq mengaku terkejut saat mendapat surat elektronik dari pihak International Short Film Festival Oberhausen.

“Saya sendiri hampir lupa kalau film ini kami daftarkan. He-he-he. Sebenarnya perjalanannya alhamdulilah cukup lancar. Kami dapat bantuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Goethe-Institut Indonesia juga ikut memberikan kemudahan dalam proses pengurusan VISA dan keberangkatan ke festivalnya,” ungkap Ufiq.

Upaya lain mendapatkan sokongan dana tambahan untuk menghadiri penyelenggaraan festival ini juga mereka lakukan. Salah satunya, seperti dituturkan Sarah Adilah selaku produser, dengan menemui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulawesi Tengah.

Hasilnya nihil belaka karena alasan anggaran untuk acara yang ingin mereka hadiri tidak masuk dalam perencanaan. Untungnya, seperti diungkapkan Sarah (8/5), menjelang keberangkatan tim ke Oberhausen, Dispar dan Ekraf Kota Palu memberikan dukungan dana (*).

Selanjutnya mereka juga melakukan presentasi dengan Pemerintah Kota Palu. “Prosesnya lumayan melelahkan. Temu janjinya sering diundur. Untungnya dapat bantuan yang lumayan untuk beli tiket pesawat Palu-Jakarta sekali jalan. Itupun kata asisten pribadi beliau sumber dananya dari kantong pribadi Pak Wali Kota,” tambah Ufiq.

Kru film Buaya saat menerima "Special Mentions" dalam ajang International Short Film Festival Oberhausen yang berlangsung di Lichtburg-Filmpalast (Sumber: Sinekoci)

Kelar segala urusan administrasi dan finansial, Ufiq bersama Sarah lantas terbang dari Jakarta menuju Dusseldorf, kota terdekat dengan Oberhausen yang memiliki bandara (25/4), dan tiba keesokan harinya.

Sesampainya di kota yang terletak di tepi Sungai Emscher ini, rombongan bertambah seturut bergabungnya Raras Umaratih, ilustrator film Buaya yang sedang berkuliah di Berlin.

Aktivitas selain menonton yang paling sering mereka lakukan selama mengikuti festival adalah berusaha menjalin relasi dengan sesama sineas, kurator, produser, praktisi seni, peneliti, dan banyak lagi.

“Festivalnya sangat menyenangkan dan intim. Banyak program pemutaran yang menarik. Tahun ini mereka mengusung tema Against Gravity: The Art of Machinima berupa kurasi film-film yang secara mekanisme produksi sinemanya dihasilkan dari video game. Juga ada program MUVI International yang menayangkan video musik di layar lebar,” jelas Ufiq.

Jalannya festival juga tak melulu berisi pemutaran film. Ada beragam suguhan lain, mulai dari diskusi/seminar hingga festival bar yang setiap malam menampilkan sejumlah DJ.

Bagi Ufiq dan kawan-kawan, berhasil terseleksi dalam festival ini saja adalah sebuah pencapaian yang teramat berarti.

Pasalnya film Buaya harus bersaing dengan sekitar 5000 judul film pendek lain dari seluruh dunia untuk bisa masuk dalam kategori “International Competition”.

Alhasil saat nama mereka disebutkan sebagai salah satu dari tiga film yang mendapatkan “Special Mentions”, perasaan senang dan bangga seketika menyatu.

Keberhasilan film Buaya tentu saja menambah panjang deretan karya sineas Palu yang menorehkan prestasi di kancah perfilman internasional.

Para sineas ini terus berkarya dan unjuk prestasi meski minim bantuan dari pemerintah lokal.

“Sejujurnya saya tidak pernah terlalu mau berharap ke pemerintah lokal. Alasan utamanya karena untuk bisa berkomunikasi ke mereka saja sudah cukup sulit dan eksklusif. Mestinya ke depannya pemerintah lokal bisa lebih diandalkan,” pungkas Ufiq.

*Catatan redaksi: Artikel ini telah mengalami pembaruan.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
2
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Festival Film Pelajar Sulteng bangkit lagi
Festival Film Pelajar Sulteng bangkit lagi
Festival Film Pelajar Sulteng akhirnya dibangunkan lagi dari tidur panjangnya. Karya siswa SMKN 1 Sigi…
TUTURA.ID - Nur Afni Eka Muslim dan pengalaman mistis menggarap film Uwentira
Nur Afni Eka Muslim dan pengalaman mistis menggarap film Uwentira
Bagi Nuning, panggilan akrabnya, Sulteng punya banyak kisah yang menarik diangkat jadi film. Salah satunya…
TUTURA.ID - Membangun ekosistem berkesenian sejak dari kampus
Membangun ekosistem berkesenian sejak dari kampus
Gelar Karya Seni Komunitas Seni Tadulako berlangsung di Universitas Tadulako. Awalan bagus untuk menciptakan ruang-ruang…
TUTURA.ID - Baku Buka Festival: Gerak kolektif demi ekosistem musik yang sehat di Sulteng
Baku Buka Festival: Gerak kolektif demi ekosistem musik yang sehat di Sulteng
PAPPRI Sulteng berupaya agar ekosistem musik di Sulteng bisa sehat dan adil bagi para pelaku…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng