Kelapa muda bakar dalam tradisi masyarakat Kaili
Penulis: Sindi Dian Wahyuningtias | Publikasi: 21 April 2024 - 22:02
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Kelapa muda bakar dalam tradisi masyarakat Kaili
Salah satu pedagang kelapa muda bakar yang ada di Jalan Moh. Yamin, Palu | Foto: Sindi Dian Wahyuningtias/Tutura.Id

Bagi masyarakat yang bermukim di wilayah tropis, kelapa adalah tanaman multiguna. Semua bagiannya bisa dimanfaatkan oleh manusia, mulai dari akar hingga daun atau janurnya.

Kelapa juga telah lama menjadi bagian dari orang-orang suku Kaili yang menghuni Lembah Palu. Salah satu daerah yang kini termasuk wilayah Kelurahan Besusu Tengah dahulu kala disebut dengan kawasan Bumi Nyiur. Sepanjang Jalur Dua alias Jalan Moh. Yamin juga dipenuhi tanaman kelapa di sisi kiri dan kanannya.

Buah kelapa yang merupakan bagian paling bernilai ekonomi juga telah lama jadi bagian penting dalam budaya dan tradisi suku Kaili. Tumbuhan yang diperkirakan berasal dari Amerika Selatan ini tak hanya menyatu dalam berbagai masakan tradisional, tapi juga diolah menjadi minyak dan obat.

Menurut arkeolog Iksam Djorimi, tanaman kelapa tumbuh di Lembah Palu sekitar 1000 tahun lalu. “Pemanfaatan kelapa baru dimulai sekitar abad ke-13,” tulis Sam, panggilan akrabnya, saat dihubungi Tutura.Id via WhatsApp, Sabtu (20/4/2024) malam.

Dalam pemanfaatan buah kelapa, masyarakat Kaili memiliki tradisi unik dalam mengolah kelapa muda. Mereka membakarnya terlebih dahulu. Tradisi ini dikenal dengan sebutan "memasak" atau "memuat".

Kelapa muda yang dibakar akan mengeluarkan aroma harum, rasa yang lebih manis, dan gurih dibandingkan dengan kelapa muda yang langsung diminum.

Sam mengatakan bahwa buah kelapa memiliki banyak khasiat bagi tubuh karena itulah masyarakat Kaili memanfaatkannya menjadi minyak adat atau lana vangi, lana panembulu untuk penyakit dalam dan luar, juga untuk mengobati penyakit maag dan sembelit.

Kelapa muda bakar merupakan tradisi masyarakat Kaili di Sulawesi Tengah. Tradisi ini biasanya dilakukan pada saat acara adat atau ritual tertentu, seperti pernikahan, kematian, atau syukuran.

Tradisi ini dipercaya dapat membawa keberuntungan dan keselamatan. Selain itu, membakar kelapa muda juga merupakan cara untuk mengawetkan buah agar tahan lama.

Banyak warga Palu yang mengonsumsi kelapa muda bakar karena dianggap membantu menjaga daya tahan tubuh | Foto: Sindi Dian Wahyuningtias/Tutura.Id

Di Kota Palu, kelapa muda bakar banyak dijajakan di sepanjang jalan Moh. Yamin, Birobuli Selatan. Para pedagang tersebut menyediakan kelapa muda bakar dengan dua versi, ada yang original dan ada yang menggunakan campuran rempah-rempah.

“Kelapa muda bakar ini sangat baik apabila dikonsumsi rutin karena dapat menambah stamina dan membantu menjaga daya tahan tubuh,” ujar Fauzi, salah satu pembeli kelapa muda bakar saat kami temui.

Mengonsumsi air maupun daging kelapa muda sesungguhnya sangat dianjurkan. Pasalnya anggota tunggal dalam genus Cocos dari suku aren-arenan ini punya banyak manfaat untuk kesehatan.

Air kelapa muda tak hanya bisa jadi pelepas dahaga atau mencegah dehidrasi, Merujuk Data Komposisi Pangan Indonesia, dalam 100 gram air kelapa mengadung air, karbohidrat, protein, kalium, kalsium, fosfor, natrium, vitamin C, dan energi.

Manfaatnya untuk kesehatan, antara lain memulihkan keseimbangan cairan tubuh, membantu proses detoksifikasi, menurunkan tekanan darah tinggi, meningkatkan stamina, mengatasi diare, dan mencegah risiko penyakit jantung.

Sementara melansir halodoc, mengonsumsi daging kelapa muda bermanfaat untuk pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh, membantu menurunkan berat badan, mendukung fungsi otak, mengontrol kadar gula darah, dan menjaga kesehatan jantung.

Pun demikian, apakah segala kandungan tersebut bisa tetap bertahan ketika kelapa muda sudah dibakar? Laiknya nutrisi sayuran yang makin berkurang jika melewati proses dipanaskan alias dimasak dalam suhu tertentu, demikian juga dengan kelapa.

Dokter spesialis gizi klinis Samuel Oetoro dalam laman CNN Indonesia mengatakan, kadar vitamin dan mineral yang terkandung di dalam kelapa juga akan berkurang bila dipanaskan.

“Sebenarnya boleh saja konsumsi air kelapa hangat, tapi yang lebih baik tentu air kelapa segar yang kandungan nutrisinya lebih tinggi,” ungkap Samuel.

Oleh karena itu, Inggrid Tania selaku Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia mengingatkan, jangan terlalu lama saat merebus air kelapa. “Lima sampai tujuh menit dengan api yang kecil,” pungkas Inggrid.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
1
Jatuh cinta
2
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Kasus ribuan ternak babi yang mati mendadak di Parimo menyulut keengganan warga mengonsumsi ikan
Kasus ribuan ternak babi yang mati mendadak di Parimo menyulut keengganan warga mengonsumsi ikan
Ribuan ternak babi di Parigi Moutong mati terkena virus demam babi Afrika. Pendapatan para pedagang…
TUTURA.ID - Kaleidoskop 2022: Sosial Politik
Kaleidoskop 2022: Sosial Politik
Beragam peristiwa terjadi dari ranah sosial politik. Kami menyarikan mulai dari program pemberian vaksin booster…
TUTURA.ID - Dadendate yang makin tergerus zaman
Dadendate yang makin tergerus zaman
Usman Lajanja, 65 tahun, bertekad melestarikan dan mengajarkan dadendate hingga akhir hayat.
TUTURA.ID - Ragam tradisi warga Palu  sambut Ramadan
Ragam tradisi warga Palu sambut Ramadan
Ada empat tradisi warga Palu menyambut Ramadan 1444 Hijriah. Selain menyemarakan suasana, tradisi ini untuk…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng