Guritan Kabudul: Ternyata kami juga berperan menciptakan neraka di tanah surga
Penulis: Juenita Vanka | Publikasi: 31 Januari 2024 - 10:11
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Guritan Kabudul: Ternyata kami juga berperan menciptakan neraka di tanah surga
Riston Pamona (kiri) dan Reymond Kuhe di sela proses rekaman album perdana Guritan Kabudul di HBF Studio (Foto: Juenita Vanka/Tutura.Id)

Riston Pamona (vokalis) dan Reymond Kuhe (gitaris dan vokalis latar) awalnya merasa krisis iklim hanya isu yang dirasakan oleh orang-orang di kota besar.

Belakangan setelah tergabung dalam The Indonesian Knowledge, Climate, Art & Music (IKLIM) bersama deretan musisi lain, duo ini menginsafi bahwa Tentena yang jadi tempat tinggal mereka juga terkena imbas.

Dampak paling terasa menurut mereka cuaca di Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, sudah tidak sedingin dulu. Ikan-ikan juga mulai berkurang. Tambah lagi aksi penebangan hutan juga masif terjadi.

Salah satu bentuk kesadaran terhadap lingkungan itu mereka tuangkan dalam lagu bertajuk “Tua Renta”. Termuat dalam album kompilasi Sonic/Panic yang rilis November 2023.

Beberapa musisi yang tergabung dalam IKLIM ikut menyumbang lagu dalam album tersebut. Selain Guritan Kabudul, ada Kai Mata, FSTVLST, Endah N’ Rhesa, Rhythm Rebels, Nova Filastine, Tuan13, Navicula, Iga Massardi (dari Barasuara), Made Mawut, Prabumi, Tony Q Rastafara, dan Iksan Skuter.

Kini Icong—sapaan Riston—dan Emon, panggilan akrab Reymond, sedang fokus merekam lagu-lagu untuk album perdana mereka. Lokasinya di HBF Studio, BTN Bumi Tinggede Indah, Marawola, Kabupaten Sigi.

Memanfaatkan waktu jeda mereka di sela proses rekaman tersebut, Juenita Vanka, Andi Baso Djaya, dan Muhammad Syukuran dari Tutura.Id mewawancarai duo yang terbentuk sejak 2018 ini, Senin (29/1/2024) malam. Berikut petikannya.

Guritan Kabudul saat melakukan sesi live recording di Desa Porame (Foto: Andi Baso Djaya/Tutura.Id)

Kenapa harus jauh-jauh rekaman di Palu?

Icong: Begini, akses rekaman di Tentena itu tidak banyak. Hal ini yang menjadi kendala bagi band-band di Tentena. Makanya kami akhirnya memilih rekaman di Palu.

Ceritakan sedikit tentang album kalian yang sedang dalam proses rekaman ini?

Icong: Ini album perdana kami. Mini album. Judulnya Budaya Elok Manusia dan Tuhan. Bercerita tentang kebiasaan-kebiasaan bertuhan tiap orang.

Mungkin ada yang dalam perjalanan mau bertobat, atau ada yang kecewa karena doanya tidak dijawab, mungkin ada yang punya perspektif apakah manusia ini betul-betul berperan atau hidup hanya menjalani takdir. Tema lagu-lagunya seperti itu.

Memuat berapa lagu?

Icong: Ada tujuh lagu yang setelah kami kumpul ternyata punya tema mirip-mirip. Kayaknya kami sedang mengarah ke soal spiritualisme waktu menggarap lagu-lagu ini.

Emon: Sebenarnya kami sudah punya banyak materi lagu. Sudah sempat mau garap album, tapi materi lagu-lagunya bukan yang sekarang kami rekam ini.

Sementara kami juga sudah punya konsep album seperti yang kami pakai sekarang. Akhirnya pas mau rekaman, kami pilih lagu-lagu yang sesuai dengan konsep album yang sudah ada.

Album perdana kalian ini nantinya rilis dalam bentuk apa?

Emon: Kalau bentuk digitalnya pasti ada.

Icong: Tadi torang habis ba cerita di depan. Jadi timbul rencana mau rilis dalam bentuk CD juga, tapi sampulnya dari kulit kayu.

Kita di Sulawesi Tengah ini, kan, ada warisan budaya kain kulit kayu. Terpikirkan betapa kerennya bikin CD dengan sampul kulit kayu. Tapi ini masih rencana. Semoga bisa terwujud.

Kapan rencana perilisan album perdana ini?

Icong: Harapannya kami bisa rilis secepatnya tahun ini. Semuanya tergantung operator rekaman kami yang ada di depan. Ha-ha-ha.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Guritan Kabudul (@guritankabudul)

Sedikit kilas balik, kenapa kalian memutuskan Guritan Kabudul memainkan folk?

Icong: Karena musik folk sedang naik daun saat itu. Ada Iksan Skuter, Payung Teduh, sama Dialog Dini Hari yang namanya sudah mulai naik.

Emon: Referensi  musik kami juga sedang mengarah ke situ.

Icong : Saya juga suka dengar musik-musik jadul, macam P. Ramlee, Oslan Husein, Orexas-nya Remy Sylado. Kalau band luar, saya juga suka dengar Queen.

Semua itu ta gabung-gabung dalam kepala jadi warna musik Guritan Kabudul yang sekarang. Makanya kalau ada pertanyaan mau ikut siapa, saya juga bingung ikut siapa.

Lalu, apa alasan menggunakan Guritan Kabudul sebagai nama?

Icong: Awalnya sempat mau pakai nama Korinante Yohimbe (sejenis cemara, red.). Itu nama pohon di Afrika yang fungsinya mengobati impoten. Membangkitkan yang mati. Ha-ha-ha. Cuma Emon suruh ganti karena menurutnya nama itu terlalu berat. Cari yang lain.

Nah, kebetulan di kamar ada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cari, cari, cari, eh, ketemu kata Guritan yang artinya puisi yang berirama. Keren sekali. Lanjut baca, dapat lagi kata Kabudul. Artinya jangkrik muda. Jadi, Guritan Kabudul itu jangkrik muda yang sedang melantunkan puisi. Emon setuju dengan nama itu.

Kapan tampil pertama kali saat menggunakan Guritan Kabudul?

Icong: Waktu terjadi gempa di Palu. Jadi, anak-anak timur yang di Jogja bikin acara amal. Kebetulan waktu itu saya di Jogja. Emon yang ada di Bandung datang naik kereta. Kami tampil membawakan lagu “Risau”.

Lagu itu memang kami bikin untuk seorang ibu asal Tentena yang anaknya jadi salah satu korban gempa di Palu. Emon menangis sepanjang lagu.

Kapan kemudian memutuskan pulang ke Tentena?

Emon: Akhir Desember 2018, kami berdua akhirnya pulang ke Tentena.

Icong: Sudah mulai perkenalkan nama Guritan Kabudul. Main di kafe-kafe. Teman-teman di Palu sudah gencar bikin acara yang mengundang musisi folk. Salah satunya Iksan Skuter (19 September 2019). Kami diminta untuk tampil jadi salah satu pembuka.

Awal 2020, Barasuara tampil di Palu lagi. Kami main di panggung kecil acara itu. Mulailah nama Guritan Kabudul jadi makin banyak diperbincangkan di Tentena dan Poso. Jadi, Palu ini sangat berjasa untuk perkembangannya Guritan Kabudul hingga hari ini.

Habis itu ada keberuntungan lagi yang muncul. Kami diminta ikut membuka konser dan berkolaborasi dengan Iwan Fals di Poso, Agustus 2022.

Kolaborasi dengan Iwan Fals sukses menarik perhatian lebih banyak orang. Naik lagi namanya Guritan Kabudul. Akhirnya mulai sering terlibat dalam beberapa festival.

Tampil di festival juga yang membuat kalian ikutan IKLIM, ya?

Icong: Tahun 2022, kami main di Festival Mosintuvu, Tentena. Festival itu ternyata dihadiri Yayasan Kopernik yang di dalamnya ada Robi Navicula. Mereka lagi kampanye isu global tentang krisis iklim di Indonesia.

Saat mereka dengar lagu “Tanah, Air, Hutan” yang menjadi theme song-nya Festival Mosintuvu, mereka tertarik ajak kami. Robi langsung yang menghubungi.

Kami jadi tertarik setelah mendengarkan pemaparan mereka. Setelah tiba di lokasi workshop, pengetahuan kami tentang krisis iklim bertambah banyak. Padahal selama ini kami merasa tidak nyambung dengan isu tentang iklim dan lain-lain itu karena merasa Tentena baik-baik saja.

Setelah ikut workshop, ada banyak data dan penjelasan yang diberikan. Ternyata krisis iklim bukan hanya isu untuk orang di kota-kota besar. Itu bikin torang jadi sadar bahwa torang juga mengambil peran menciptakan neraka di tanah surga ini. Soalnya kami berdua sepakat bumi tempat kita tinggal ini tanah surga.

Mengapa kalian sebagai seniman merasa penting menyuarakan tentang isu krisis iklim?

Icong: Tiap orang sebenarnya wajib menyuarakan. Hanya saja torang sebagai seniman, bagaimana torang mau menyanyi kalau buminya torang ini mati.

Emon: Kami ingin membuat isu ini lebih populer. Bukan hanya ada di kalangan musisi.

Icong: Berharap kami juga bisa membuat pemerintah lebih peka terhadap lingkungan, tentang krisis iklim di Indonesia.

Apa yang bikin kalian akhirnya merasa terhubung dengan isu global krisis iklim?

Icong: Yang pertama itu cuacanya Tentena sudah tidak sedingin dulu. Beberapa penelitian yang dilakukan di Tentena juga menunjukkan bahwa torang tidak sedang baik-baik saja lantaran krisis iklim ini.

Emon: Sudah banyak juga hutan di Tentena yang ditebang.

Icong: Akhirnya kami makin sadar lingkungan.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Tutura Indonesia Media (@tutura.id)

Bagaimana soal musikalitas saat membuat lagu?

Icong: Kami tidak mau terpaku pada satu tema dalam mencipta lagu. Meskipun pilihan itu tidak salah, tapi kami menganggap ruang berekspresi itu luas, tidak sempit. Kadang-kadang kami cerita tentang cinta, pohon, hutan, air, tanah. 

Kalau proses kreatifnya seperti apa?

Emon: Paling sering Icong datang sudah bawa lagu, jadi saya tinggal poles saja aransemen musiknya seperti bagaimana maunya dia. Kadang-kadang ada juga lagu yang kami buat sama-sama.

Icong: Biasanya kita sharing soal musik untuk lagu ini seperti apa bagusnya. Dan sejauh ini memang klopnya sama Emon.

Emon: Tapi kadang susah juga mau mentransfer kemauannya Icong. Contohnya lagu “Tua Renta”. Ada satu bulan prosesnya itu, gonta-ganti aransemen. Saya coba bikin sendiri aransemennya. Pas kasih dengan hasilnya, ekspresi mukanya Icong flat. Akhirnya bikin sama-sama.

Ada kesibukan lain di luar Guritan Kabudul?

Icong: Kalau sekarang saya punya dua kedai. Yang pertama jual bubur babi, yang kedua jual pisang goreng.

Emon: Kalau saya ini serabutan.

Icong: Dia ini lebih banyak proyek musiknya ketimbang saya. Ada tujuh band. Ha-ha-ha. Main di acara nikahan, kafe.

Emon: Sebenarnya tidak juga. Cuma bantu-bantu. Misalnya kemarin saya bantu Temprament Navigasi jadi additional gitaris. Sempat juga buka usaha steam mobil dan motor.

Bukannya Icong bikin grup lain namanya Melagu?

Icong: Oh, itu proyek sampingan dengan teman. Namanya Iksan. Dia main geso-geso (alat musik gesek tradisional). Bikin Melagu lantaran so ta tumpah ide di kepala. Sayang sekali kalau cuma habis di pikiran. Harus dijadikan lagu. Kebetulan Guritan waktu itu lagi mager (malas gerak).

Selain liriknya lebih sederhana, gamblang, tidak banyak menggunakan kiasan, penggunaan alat musik geso-geso juga yang membedakan antara Guritan dengan Melagu. Jarang sekali yang menggunakan geso-geso. Unik.

Menurut kalian, seperti apa pendekatan yang cocok untuk memasarkan album di industri musik sekarang ini?

Icong: Tetap harus beriringan offline dan online. Harus imbang.

Emon: Yang pasti harus lebih gencar di online. Karena penikmatnya lebih mudah dijangkau.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
2
Jatuh cinta
3
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Kiprah pengamen sang pelestari lagu daerah Kaili
Kiprah pengamen sang pelestari lagu daerah Kaili
Lima pemusik jalanan dengan wilayah jelajah berbeda. Kerap tampil bersama di SPBU Imam Bonjol, Palu.…
TUTURA.ID - Komunitas Pelajar Berbudaya pesemaian dalam melestarikan kesenian tradisional Sulteng
Komunitas Pelajar Berbudaya pesemaian dalam melestarikan kesenian tradisional Sulteng
Para anggota Komunitas Pelajar Berbudaya tak hanya pelajar dari Kota Palu, tapi juga melebar hingga…
TUTURA.ID - Festival Titik Temu jadi tempat bertemunya beragam keseruan
Festival Titik Temu jadi tempat bertemunya beragam keseruan
Kali kedua penyelenggaraan Festival Titik Temu berlangsung lebih meriah. Beragam suguhan baru dihadirkan.
TUTURA.ID - Mengais rezeki dari tumpukan sampah
Mengais rezeki dari tumpukan sampah
Para pemulung jadi salah satu garda terdepan mengurangi tumpukan sampah. Pun sedikit mengurangi beban sampah…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng