Menyemai sineas muda di kalangan pelajar Sulawesi Tengah
Penulis: Anggra Yusuf | Publikasi: 15 Mei 2024 - 10:12
Bagikan ke:
TUTURA.ID - Menyemai sineas muda di kalangan pelajar Sulawesi Tengah
Mohammad Ifdhal saat tampil melakukan sosialisasi tentang Festival Film Pelajar Sulteng di SMK Negeri 2 Palu | Foto: Anggra Yusuf/Tutura.Id

Sulawesi Tengah memiliki potensi besar untuk melahirkan para pembuat film atau filmmaker berkualitas. Sayangnya, kegiatan apresiasi masih terbatas jika dibandingkan daerah lain di Indonesia, termasuk bagi para sineas muda dari kalangan pelajar. 

Kehadiran festival film bisa jadi satu alternatif jalan keluar yang bisa memfasilitasi para sineas muda untuk menampilkan hasil ekspresi kreatifnya. 

Festival Film Pelajar Sulawesi Tengah tahun 2024 bisa jadi momentum bagi perfilman di Sulteng. Acara ini adalah inisiatif Dinas Kebudayaan Sulteng yang menggadeng Sinekoci, film lab yang berfokus pada pelatihan, pengembangan cerita, dan pendanaan produksi film, sebagai mitra. 

Progresnya telah memasuki tahapan sosialisasi dengan cara melakukan roadshow alias safari kepada para pelajar di berbagai sekolah menengah atas atau sederajat di Kota Palu. Salah satunya berlangsung di SMK Negeri 2 Palu, Jalan Setia Budi, Palu Timur, Selasa (14/5/2024). 

Kehadiran ajang ini sejalan dengan dengan predikat Kota Film, Animasi, dan Video yang diberikan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk Kota Palu yang tak lain ibu kota provinsi. 

"Terlepas dari hal predikat itu, perkembangan perfilman di Sulteng ini perlu ada wadah apresiasi. Festival itulah ruangnya. Makanya kita perlu itu," kata Mohammad Ifdhal, sineas yang juga membidani Sinekoci, saat ditemui Tutura.Id usia sosialisasi program tersebut, Selasa (14/5) siang. 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Festival Film Pelajar Sulawesi Tengah (@festivalfilmpelajarsulteng)

Persiapan Festival Film Pelajar Sulteng mulai dilakukan sejak Januari 2024 dan pendaftaran telah dibuka sejak bulan April lalu. Sosialisasi selanjutnya bakal dilaksanakan Kamis (16/5) secara daring ke sekolah-sekolah di luar Kota Palu yang dapat dijangkau oleh penyelenggara. 

Film-film yang didaftarkan nantinya, mulai dari dokumenter, fiksi, maupun animasi, adalah hasil karya dari berbagai sekolah menengah atas atau sederajat yang ada di Sulteng. Pun durasinya minimal tiga menit dan maksimal 15 menit. Mengirimkan lebih dari satu film juga diperbolehkan. 

Bila melirik potensi yang ada, geliat produksi film di Sulteng nyata adanya. Beberapa film karya sineas lokal telah beberapa kali terseleksi mengikuti berbagai penyelenggaraan festival film dalam dan luar negeri. Bahkan tak jarang berhasil menyabet penghargaan. Ambil misal Saya di Sini, Kau di Sana, yang telah melintasi berbagai festival di beberapa negara. 

Kehadiran festival film diharapkan mampu menumbuhkan ekosistem perfilman yang sehat sehingga mendukung terciptanya film-film berkualitas. Pun tentunya regenerasi para sineas muda yang masih duduk di bangku sekolah. 

Apalagi film-film yang lolos kurasi pada Festival Film Pelajar Sulteng akan langsung dikirim dan dikurasi kembali oleh penyelenggara Flobamora Film Festival 2024 untuk tampil dalam ajang tersebut. 

Inisiatif Dinas Kebudayaan Sulteng dan Sinekoci dalam mensosialisasikan Festival Film Pelajar Sulteng ini patut diapresiasi, mengingat wilayah ini belum lagi mengadakan festival film, terutama pada level siswa sekolah. Beberapa tahun silam sempat ada, tapi tidak berkelanjutan.

Para siswa dan siswi SMK Negeri 2 Palu foto bersama usai mendapat kunjungan Sinekoci yang mensosialisasikan tentang rencana mengadakan Festival Film Pelajar Sulteng | Foto: Anggra Yusuf/Tutura.Id

Salah satu tantangan dalam penyelenggaraan festival film untuk kalangan pelajar ini, diakui Ifdhal, lantaran belum tersedianya pangkalan data (database) yang jadi pegangan mereka.

Memiliki pangkalan data sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan dan keberlanjutan ekosistem perfilman. Pun bisa jadi arsip penting yang fungsional dalam menunjang pembelajaran di dunia pendidikan.

"Selain hal tadi, kami masih mencari bentuk festival yang cocok di Sulteng. Karena setiap lokus itu punya karakteristik SDM dan kebutuhan yang berbeda-beda. Makanya kami masih mau mempelajari itu semua," tambah Ifdhal. 

Perihal konsep, Ifdhal belum bisa menjabarkan secara lengkap karena masih harus melakukan sejumlah pembicaraan terlebih dahulu. Hanya saja laiknya penyelenggaraan di daerah lain, dirinya mengatakan bahwa ajang ini nantinya berisi program kompetisi, ekshibisi, dan lokakarya alias workshop

Langkah perdana menyelenggarakan Festival Film Pelajar Sulteng diharapkan bisa menjaring banyak dukungan agar napas festival ini jadi lebih panjang alias jadi agenda rutin.

"Semoga Dinas Kebudayaan bisa support terus kegiatan ini. Selain berharap kita bisa memiliki database terkait perfilman. Dan tentu jadi agenda rutin sehingga festival ini bisa bertaraf nasional," pungkas Ifdhal.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
0
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
Mungkin tertarik
TUTURA.ID - Asa menghadirkan cagar budaya di Kota Palu
Asa menghadirkan cagar budaya di Kota Palu
Kota Palu menyimpan banyak potensi Objek yang Diduga Cagar Budaya. Namun, belum ada satu pun…
TUTURA.ID - Data banjir di Sulteng: 207 peristiwa dalam satu dekade
Data banjir di Sulteng: 207 peristiwa dalam satu dekade
Pada 2019, ada 18 banjir di Sulteng. Angka itu naik lebih dua kali lipat hingga…
TUTURA.ID - Tahun politik: Tikungan terakhir politisi senior Sulteng
Tahun politik: Tikungan terakhir politisi senior Sulteng
“Polling Paling 2023” dari Tutura.Id memuat empat nama politisi senior. Sebagai politisi nan kenyang asam…
TUTURA.ID - Babak baru saham Vale Indonesia, plan kerja sama dengan Sulteng, dan green smelter di Blok Bahodopi
Babak baru saham Vale Indonesia, plan kerja sama dengan Sulteng, dan green smelter di Blok Bahodopi
MIND ID siap ambil 11 persen saham Vale Indonesia. Sulteng tinggal berharap joint operation dari…
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng
TUTURA.ID - Darurat Kekerasan Seksual Di Sulteng